Wednesday, August 21, 2019

Lomba panjat pinang khas Italia.


Beberapa hari lalu, seorang teman mengirimi saya video berbagai perlombaan di perayaan HUT Republik Indonesia. Ketika melihat video lomba panjat pinang, saya pun langsung tertawa terbahak - bahak. Menonton panjat pinang, memang kegiatan yang paling saya sukai sejak kecil. Bersyukur, lomba seperti itu juga ada di Italia. Di sini dikenal dengan nama “l'albero della cuccagna”. Sama seperti di Indonesia, perlombaan ini selalu hadir di banyak festival musim semi dan panas, yang berlangsung antara bulan Juni – Agustus.

L'albero della cuccagna pertama kali diperkenalkan oleh orang – orang Jermanik yang berimigrasi ke Italia. Mula - mula berkembang di wilayah Mediterania, kemudian menyebar ke Italia tengah dan utara. Sampai sekarang, “lomba tiang berminyak”, begitu orang Italia menyebutnya, selalu menarik perhatian banyak orang. Sebuah permainan yang selama bertahun-tahun telah menjadi simbol festival populer dan festival pedesaan Italia.

Beberapa kota di Italia masih mempertahankan tradisi lama. Hadiahnya digantung di puncak tiang, biasanya berupa makanan khas daerah setempat, seperti: keju, anggur, roti, ham dan lain – lain. Cara bermainnya juga sama. Para peserta harus bekerjasama menaiki pohon yang sudah dilumuri minyak atau lemak, untuk mengambil hadiah yang digantung di puncaknya.


L'albero della cuccagna.

Panjat pinang juga populer di Spanyol, Jerman, Malta dan negara – negara Eropa lainnya. Istilah "cuccagna" sendiri berasal dari bahasa Latin ”coquina” yang artinya memasak. Dalam bahasa Prancis, dikenal dengan nama "Cocagne", Inggris "Cockaigne", Spanyol, "Cucaña" dan di Malta, "Kukkanja". Sedangkan, “cuccagna” dalam bahasa Gotik: kōka (kuche atau kuchen, dalam bahasa Jerman) artinya kue atau beberapa jenis makanan penutup yang gurih atau manis, seperti: kue kering dan gateaux (bolu panggang).

Karena sudah dipengaruhi oleh kultur negara masing – masing, panjat pinang di Eropa memiliki ciri khasnya tersendiri. Seperti “Maibaum” atau “Maypole”, pohon dalam festival Midsummer khas Eropa utara. Pohon tinggi sebagai simbol penghubung langit dan bumi. Biasanya pohon dicat warna – warni, kemudian dihiasi dengan pita dan beraneka jenis bunga. Ketika musim semi tiba, kaum muda berpakaian tradisional menari – nari dengan riang di sekeliling pohon ini. 

Menurut Antropolog James Frazer, panjat pinang di Eropa memiliki asal usul yang sama. Berakar dari tradisi celtic, nenek moyang bangsa - bangsa Eropa utara dan berkaitan dengan kultus arboreal yang tersebar di seluruh Eropa. Tradisi yang dimulai dari populasi petani kuno (orang – orang Jermanik), dimana pohon memiliki arti mitologi, religi dan simbologi yang luas dan universal. 



Maibaum atau Maypole.

Bagi orang – orang Jermanik, pohon adalah lambang kesuburan. Makanan adalah pusat kebutuhan manusia dan pohon bisa memberikannya. Ketika pohon mulai bertunas di musim semi, pertanda alam lahir kembali dan ini menjadi simbol dasar siklus kehidupan. Orang – orang Jermanik juga percaya, kekuatan gaib yang dimiliki pohon, bisa melimpahkan berkat dan kekayaan.

Oleh karena itu, di perayaan May Tree Celtic atau “Feste di Maggio” (pesta bulan Mei), para petani kuno melakukan ritual. Setelah melewati musim dingin dan memasuki pengantian musim, mereka memberikan penghormatan dan persembahan pada pohon. Memohon kembali kesuburan alam dan berharap kemurahan hati alam. Supaya pohon memberikan buah yang baik dan melimpah kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, semua magis dan makna sakral pada pohon mulai meredup, kemudian menghilang dalam kabut waktu. Beberapa ritual, tradisi dan kepercayaan celtic pun berubah menjadi berbagai permainan. Salah satunya l’albero della cuccagna yang berubah menjadi perlombaan kaum muda dalam menaklukan berbagai bahan makanan. Sepertinya panjat pinang yang diperkenalkan oleh Belanda di Indonesia, berasal dari tradisi ini juga.

Kirchtagsmichl.

Kini, perlombaan panjat pinang di beberapa kota Italia lebih bervariasi. Di kota Albignano d'Adda misalnya, hadiahnya berupa hewan yang digantung di ketinggian 10 meter. Di Alto Adige, ada “Kirchtagsmichl” boneka jerami seukuran manusia yang digantung di atas tiang pohon. Boneka itu mengenakan kostum tradisional khas wilayah setempat dan ditangannya memegang Kirchtagkrapfen, hidangan penutup khas Tyrolean.

Namun yang paling terkenal adalah Cuccagna del Cadenon di kota Verona, tepatnya di pelabuhan Lazise di Danau Garda. Bentuk permainannya sedikit berbeda, karena tiang yang dilumuri minyak di tempatkan di tepi danau dengan posisi horizontal. Para peserta harus mengambil bendera yang diletakkan di ujung tiang. Jika tergelincir, masih ada kesempatan bagi mereka mendapatkan hadiah yang lain, dengan berenang di air danau yang dingin.

Tantangannya lebih berat lagi, mungkin ada di kota Cesenatico. Selain kesulitan berjalan di atas lemak, para peserta juga harus bisa mengatasi 30º kemiringan tiang. Satu-satunya bantuan adalah hanya segenggam pasir, yang bisa membantu membuang lemak, sehingga peserta bisa bergerak maju.

Cuccagna del Cadenon.


Mungkin dari sisi atletiknya, banyak kaum muda Italia mulai tertarik dengan permainan ini. Mereka mulai mempelajari bagaimana caranya bertahan di tiang yang licin, melewati tantangan dan rintangan, sehingga mereka bisa sampai di puncak dalam waktu yang singkat. Tahun 1980, AIPC (Associazione Italiana Palo Della Cuccagna ) atau Asosiasi “tiang berminyak” Italia pun berdiri.

Sejak diakui oleh CONI (Comitato Olimpico Nazionale Italiano), sebagai salah satu cabang olah raga, banyak tim “L'albero della cuccagna” berbagai wilayah turut bergabung. Diantaranya: I Grassi Ostinati di Leno (Brescia), Rosengarden di Palosco (Bergamo), I Lariani (Como), Gli Strà Ferà di Parabiago (Milan) dan tim terkenal lainnya. Mereka juga selalu ambil bagian dalam kompetisi yang rutin diadakan setiap tahunnya.

Kompetisi yang diselengarakan oleh AIPC, memiliki peraturan yang harus dihormati oleh semua tim atau peserta perorangan. Hadiahnya tidak lagi berupa makanan dan minuman, tetapi piagam, piala dan sejumlah uang. Supaya tradisi kuno ini tetap ada, banyak pihak peduli dan ikut berkontribusi, baik sebagai sponsor maupun penonton. Dengan begitu, permainan yang sangat menghibur ini, tetap dikenal oleh generasi muda Italia. Arrivederci..


Trailer Cuccagna del Cadenon di kota Verona:


Sumber:
http://guide.supereva.it/antropologia/interventi/2009/01/l%E2%80%99albero-della-cuccagna

Wednesday, August 7, 2019

Augustus, imperator muda dan berpengaruh.


Segala sesuatu memiliki nama, tapi kita cenderung menggunakan nama –nama itu, seolah-olah hanya nama benda. Padahal setiap nama mempunyai arti dan kisahnya sendiri. Kadang dengan menyebut namanya saja, kisah itu langsung terlintas dalam pikiran kita. Salah satunya mungkin kisah Imperator Romawi yang sangat berpengaruh, Octavianus Augustus atau Augustus. 

Namun, Augustus sebenarnya bukan nama orang, tapi sebuah “gelar” yang diberikan kepada semua Imperator Romawi oleh Gli àuguri (para pendeta Romawi kuno yang bertanggung jawab menafsirkan kehendak Dewa). Kata Augustus sendiri berasal dari bahasa latin “augere” yang berarti “hebat” atau “terhormat”. Dan Imperator Romawi pertama yang menerima gelar itu adalah, Gaius Iulius Caesar Octavianus Augustus.

Gelar penghormatan itu diterimanya tahun 27 SM. Setelah ia menata kembali Romawi yang hancur lebur, karena perang saudara selama 20 tahun. Octavianus baru berusia 33 tahun, ketika tugas berat itu ada di hadapannya. Dengan kesabaran dan kemampuan yang dimilikinya, ia mampu merombak setiap aspek kehidupan Romawi. Merevisi jumlah senat, mereformasi konstitusi, mengatur kembali angkatan bersenjata dan yang lainnya. 


Octavianus Augustus.

Selama berkuasa ( 27 SM sampai 14 M), Octavianus dihormati sebagai "l'Imperatore della pace" (Imperator Perdamaian). Ia menjadi seorang pejabat yang berpikiran terbuka, cerdas dalam berpolitik dan membangun Romawi dengan fondasi ekonomi yang kuat. Berkat usahanya itu, Romawi masuk ke dalam periode panjang perdamaian, kemakmuran dan situasi politik yang stabil.

Latar belakang keluarga Octavianus, bisa menjadi salah satu faktor keberhasilannya. Ayahnya, seorang pengusaha dan senator Romawi, dan ibunya Atia, adalah putri Julia, saudara perempuan Julius Caesar. Octavianus lahir di Roma, 23 September 63 SM dan menjadi yatim piatu di usia empat tahun. Sejak muda, ia terbiasa tampil di depan umum, kemudian terpilih menjadi anggota pontifices ( dewan imam tertinggi di Romawi). Ketika ayah angkatnya Julius Caesar terbunuh tahun 44 SM, ia juga telah menyelesaikan studi akademis dan militernya.

Berbagai reformasi Julius Caesar yang tertunda, diselesaikan di bawah penggantinya Octavianus Augustus. Salah satunya tentang ”Kalender Julian”, yang diperkenalkan Julius Caesar tahun 46 SM. Ketika melakukan perjalanan ke Mesir, Caesar menugaskan astronom Mesir, Sosigene Aleksandria merancang kalender baru yang lebih fungsional. Kalender matahari yang perhitungannya berdasarkan siklus musim.


Kalender Romulus.

Perhitungan kalender Julian hampir sama dengan kalender Gregorian atau kalender Masehi yang kita pakai saat ini. Hanya ada sedikit perbedaan, namun semuanya sudah diperbaiki, ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian bulan Oktober 1582. Memiliki 365 hari dalam setahun dan setiap 4 tahun sekali, ada tahun kabisat.

Kalender memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia sejak zaman kuno. Karena memiliki banyak kesalahan dalam perhitungan, kalender kuno mengalami perubahan selama berabad –abad. Diperkirakan sejak tahun 753 SM, bangsa Romawi sudah memiliki kalendernya sendiri. Kalender Romulus adalah kalender pertama mereka, dibuat oleh Romulus pendiri bangsa Romawi. Kalender ini memiliki 304 hari, dibagi dalam sepuluh bulan dan dimulai dari bulan Maret.

Perubahan posisi bulan, sangat membantu orang – orang kuno mengukur waktu. Oleh karena itu, perhitungan kalender Romulus menggunakan fase bulan. Sehingga mereka tahu, kapan waktu terbaik untuk menanam dan memanen. Bulan dan bintang-bintang juga merupakan alat yang bisa membantu mereka saat bepergian, baik di darat maupun laut.

Empat bulan pertama kalender Romulus mengambil nama Dewa utama mereka. Maret dari Mars (dewa perang), April dari Aphrodite (dewi cinta), Mei atau Maia (dewi kesuburan bumi) dan Juni atau Juno (dewi perempuan dan pernikahan). Dari Juli sampai Desember, menggunakan angka peringkat dalam bahasa latin. Bulan Juli disebut Quintilis (bulan kelima), Agustus di sebut Sextilis (bulan keenam). Kemudian settimo, ottavo, nono, decimo (bulan ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuluh).

Agustus dalam kalender Romawi.

Tahun 713 SM, kalender Romulus berubah menjadi kalender Numa. Kalender yang dibuat oleh Numa Pompilio, raja kedua Kerajaan Romawi pengganti Romulus. Kalender ini hanya menambahkan bulan Januari dan Februari ke sepuluh bulan yang sudah ada atau menambahkan 51 hari ke 304 hari kalender Romulus. Kalender Romawi dirubah lagi atas perintah Gayus Julius Caesar, namun langkahnya terhenti ketika ia mati dibunuh.

Untuk menghormati Gayus Julius Caesar, senat Romawi Marco Antonio mengusulkan untuk mengubah nama bulan Quintilis (bulan kelima kalender Romawi ) menjadi Iulius, Giulio atau Juli. Dan untuk menghormati Octavianus, mereka juga mengganti nama bulan ke enam kalender Romawi dari Sextilis menjadi Augustus. Jumlah harinya juga dibuat sama seperti bulan Juli, menjadi 31 hari. Senat mengambil satu harinya dari bulan Februari.

Melalui berbagai upacara keagamaan dan memperbaiki banyak kuil, Imperator Augustus ingin menghidupkan kembali kepercayaan Italia kuno. Pada tahun 18 M, Augustus memutuskan adanya festival sebulan penuh untuk merayakan panen dan masa berakhirnya bekerja di ladang. Liburan Augustus itu dikenal dengan nama “Ferragosto” atau “Augustei” atau “Feria Augustalis. Selama perayaan, seluruh Kekaisaran Romawi ramai dengan berbagai kegiatan, salah satunya lomba pacuan kuda dan keledai yang didandani dengan bunga-bunga berwarna cerah. 


“Feria Augustalis Romawi”.


Tradisi kuno masih terus dirayakan sampai saat ini. Seperti pacuan kuda “Palio dell'Assunta” di kota Siena, yang berlangsung setiap tanggal 2 Juli dan 16 Agustus. Bentuk dan kegiatannya hampir sama dengan pacuan kuda di zaman Augustus. Nama “Palio” sendiri diambil dari "pallium", kain sutra yang diberikan sebagai hadiah bagi para pemenang lomba kuda di zaman Romawi Kuno.

Ferragosto juga salah satu liburan yang sangat ditunggu – tunggu dan tanggal 15 Agustus adalah hari libur nasional di Italia. Banyak masyarakat di sini mengambil libur panjangnya di bulan Agustus. Semuanya beristirahat dan bersantai, setelah satu tahun bekerja keras. Kurang lebih seminggu, perkantoran dan pertokoan tutup. Apalagi kegiatan belajar mengajar, mereka bahkan sudah libur sejak bulan Juli.

Banyak hal yang biasa dilakukan masyarakat Italia selama ferragosto. Ada yang tetap berlibur Italia atau di luar negeri, di laut atau di pegunungan, di kota atau di pulau. Tapi bagi kami sekeluarga, akan lebih menarik jika kembali mengunjungi Roma. Melakukan perjalanan menembus waktu dan berpetualang di kota Roma kuno. Kita bisa berdiri di depan Forum dan memandang dari dekat, orang - orang Roma kuno  sedang bekerja.

Ini sebuah proyek dari Piero Angela, berkolaborasi dengan ahli sejarah Gaetano Capasso, dalam sebuah acara “Viaggio nei Fori”. Bagi mereka yang mencintai sejarah, ini akan menjadi tontonan yang menarik, menyentuh dan kaya akan informasi. Melalui penggunaan teknologi canggih dan permainan cahaya, membuat Julius Caesar dan Octavianus Augustus seakan hidup kembali. Arrivederci…

Trailer “Viaggio nei Fori”.Roma:


Sumber : https://www.studiarapido.it/agosto-nel-calendario-romano/#.XUF95FUza00

Wednesday, July 24, 2019

Museum mumi “Catacombe dei Cappuccini” Palermo


Bagi sebagian orang, tempat ini unik dan menarik. Dimana tradisi kematian memiliki banyak arti, tidak hanya dalam arti religius tetapi juga historis dan budaya. Namun bagi mereka yang sensitif, tempat ini mungkin dihindari. Berjalan menyusuri lorong berdebu, melihat tubuh mumi tergantung dengan mulut terbuka dan rongga mata kosongnya menatap kita, sungguh pengalaman yang menakutkan. 

Tapi disitulah keunikan Catacombe dei Cappuccini (baca: Katakombe dei Kapucinni). Pemakaman yang terletak di ruangan bawah tanah Gereja Santa Maria della Pace Palermo, yang didirikan para biarawan Capuchin tahun 1534. Berawal ketika mereka memperluas pemakaman dan menemukan 45 jenazah rekan mereka yang dikubur bertahun – tahun,  tetapi masih utuh. Mereka percaya jika ini tanda Ilahi. Mereka pun membiarkan mumi – mumi itu dipajang di Catacombe. 

Akhir tahun 1700, siapapun diizinkan dimakamkan di Catacombe, asalkan membayar kontribusi untuk pembangunan gereja. Banyak warga kaya menginginkan orang yang mereka cintai dimakamkan di tempat ini. Demikian juga dengan para tokoh berpengaruh menyatakan menginginkan hal yang sama dalam surat wasiatnya. Catacombe dei Cappuccini pun mulai dipenuhi jenazah mumi dengan reputasi tertentu.

Catacombe dei Capuccini, Palermo 

Mereka mengenakan pakaian tertentu yang bisa diganti secara berkala. Para saudagar dan kaum borjuis berpakaian elegan dan para perwira mengenakan seragam militernya. Para biarawan mengenakan jubahnya dan wanita muda yang meninggal sebelum menikah, mengenakan baju pengantinnya. Supaya terlihat seperti hidup, mumi juga diizinkan menggunaan make-up dan biji mata dari kaca.

Kerabat mereka diperbolehkan mengunjunginya, melihat penampilannya dan merawat tubuhnya supaya tetap dalam kondisi layak. Posisi mereka ditata, seolah sedang berpose. Letak peti mati diatur sedemikan rupa, sehingga saat keluarga berkunjung, mereka bisa berpegangan tangan dan berdoa bersama.

Metode pemakaman Catacombe dei Cappuccini sangat dihargai, sehingga dikecualikan dari semua undang-undang sipil yang dikeluarkan Kerajaan Sisilia dalam hal pemakaman. Proses pembalsamannya juga dianggap unik. Pertama-tama semua organ dalam dikeluarkan, kemudian tubuh dicuci dengan cuka, dikeringkan di rak pipa keramik dan dibiarkan selama satu tahun. Setelah kering, tubuh mumi diisi dengan jerami dan diikat.

Sekitar 8000 jenazah dan 1252 mumi ada di pemakaman ini. Tersebar di 5 koridor dan dibagi berdasarkan gender dan kategori sosial: pria, wanita, perawan, anak-anak, keluarga, imam, biarawan dan profesional. Frater 'Silvestro da Gubbio adalah biarawan pertama yang dimakamkan di tempat ini. Meninggal tahun 1599 dan menjadi simbol dari Catacombe dei Cappuccini itu sendiri. Sedangkan biarawan terakhir adalah Frater Riccardo, yang meninggal tahun 1871.

Rosalia Lombardo, foto tahun 1995.

Untuk alasan sanitasi, tahun 1880, penguburan di gereja-gereja dan ruang bawah tanah dilarang dan Catacombe dei Cappuccini pun ditutup. Namun tahun 1920, ada dua jenazah terakhir yang diizinkan masuk: Giovanni Paterniti, wakil konsul Amerika Serikat dan si kecil Rosalia Lombardo, putri dari keluarga kaya Palermo.

Kisah Rosalia kecil ini, membuat banyak orang terenyuh. Ia meninggal karena radang paru-paru di usia 2 tahun. Ayahnya membawa tubuh gadis kecil itu ke Alfredo Salafia, pembalsem terkenal Italia. Metode Salafia benar – benar bekerja, gadis kecil itu selamat dari pembusukan, bahkan kecantikannya masih bisa dilihat sampai sekarang. Pipinya yang montok kemerahan, bulu matanya yang panjang dan pita kuning masih terikat manis di rambut pirangnya. Semuanya masih utuh, gadis kecil itu terlihat sedang tidur lelap.

Kehadirannya di Catacombe dei Cappuccini, selalu mengambil hati dan pikiran para pengunjung. The Sleeping Beauty of Palermo, begitu banyak orang menyebutnya. Untuk memperlambat proses pembusukan, mumi tercantik di dunia itu diletakkan di rumah barunya. Di sebuah peti kaca yang tertutup rapat dengan temperatur yang terjaga.

Catacombe San Callisto (Saint Callixtus), Roma.

Catacombe sebenarnya pemakaman bawah tanah yang digunakan di zaman kuno. Mungkin sejak zaman Neolitik, seperti yang digunakan oleh orang - orang Etruskan dan Nuragik di pulau Sardegna. Berasal dari nama latin "catacumba", yang artinya di bawah rongga atau gua. Umumnya, catacombe dibangun dengan cara menggali bukit kapur, sampai membentuk terowongan dengan kedalaman 7 sampai 30 meter. 

Karena hukum romawi kuno melarang menguburkan orang mati di dalam kota, catacombe Pagan dibangun jauh di luar benteng kota. Setelah dikremasi dan abunya dimasukkan ke dalam guci, para bangsawan romawi menyimpannya di makam – makam pribadi, sedangkan rakyat biasa menyimpannya di catacombe. 

Catacombe Yahudi dan Kristen banyak dibangun di abad ke-2 sampai abad ke-5 M. Karena mereka percaya ada kebangkitan setelah kematian, jenazahnya tidak dikremasi. Tapi dibungkus dengan dua lapis kain yang dibasahi ramuan tertentu, kemudian diletakkan di dalam ceruk dan ditutup dengan lempengan batu. Di waktu – waktu tertentu, catacombe juga berfungsi sebagai tempat melakukan ekaristi, dan tempat berlindung selama masa penganiayaan.

Hampir seluruh wilayah di Italia memiliki catacombe, namun yang terbanyak ada wilayah Lazio, dimana kota Roma berada. Lebih dari 60 catacombe ada di kota ini, yang tersebar di sepanjang jalan kuno: Via Appia, Via Ostiense, Via Labicana, Via Tiburtina, dan Via Nomentana. Beberapa diantaranya dibuka untuk umum, seperti: Catacombe San Callisto, San Sebastiano, Santa Domitilla, Santa Priscilla dan S. Agnese. Roma juga memiliki enam Catacombe Yahudi, namun empat telah menghilang dan dua lainnya: Vigna Randanini dan Villa Torlonia sudah ditutup. 

Catacombe San Gennaro ( Saint Januarius), Naples. 

Yang tertua adalah Catacombe Sant Sebastian, yang terletak di Via Appia Antica Roma. Yang paling terkenal dan banyak dikunjungi penziarah adalah Catacombe Sant Callixtus, terletak di antara Via Appia Antica, Via Ardeatina dan Via delle Sette Chiese Roma. Catacombe ini dikenal juga dengan nama catacombe “Para Paus”, karena banyak martir kristen dimakamkan di tempat ini, salah satunya Santa Cecilia.

Ratusan catacombe lainnya ada di kota Venice, Naples, Campania, Puglia, pulau Sardinia dan pulau Sisilia, tempat Catacombe dei Cappuccini berada. Seperti orang – orang Sisilia yang percaya “kematian adalah bagian dari kehidupan dan hubungan antara manusia hidup dan yang mati masih bisa terus berlanjut”, catacombe yang lain juga mempunyai kisah dan sejarahnya sendiri. Kisah yang lahir dari budaya dan tradisi, dimana catacombe itu berdiri. Arrivederci…

Trailer Catacombe dei Cappuccini Palermo:



Sumber: https://www.travel365.it/viaggio-nel-regno-dei-morti-catacombe-palermo.htm

Thursday, July 11, 2019

Danau Pilatus di antara sejarah dan legenda.


Meskipun sulit ditempuh, danau ini tetap menjadi tempat impian para pendaki. Salah satu danau glasial di pegunugan Apennine, yang terbentuk karena erosigletser selama Zaman Es. Berada diketinggian 1.941 m dpl, di kawasan Taman Nasional Pegunungan Sibillini, wilayah Marche. Dikenal juga dengan sebutan "il lago con gli occhiali", karena diperiode tertentu, danau ini terlihat seperti dua cermin air yang menyerupai kaca mata dengan posisi berbeda.

Danau yang selalu tertutup salju saat musim dingin dan penuh warna – warni bunga saat musim semi tiba. Namun sayang, kita hanya bisa memandangnya dari jauh. Bahkan airnya yang berkilau bagaikan kristal pun, tidak bisa kita sentuh. Jarak mendekati danau Pilatus memang di batasi, supaya species langka yang hidup di danau ini terlindungi.

Danau Pilatus juga penuh dengan misteri dan legenda. Nama yang disandangnya, mengingatkan kita pada gubernur di Palestina 2000 tahun silam. Gubernur yang sinis dan skeptis, yang rela mengorbankan hidup seseorang hanya untuk menyenangkan banyak orang. Dalam sebuah peristiwa paling penting sekaligus menyakitkan dalam sejarah manusia.

Lewat danau ini, sepertinya kisah hidup Pontius Pilatus sedikit terungkap. Latar belakangnya, posisi, tugas maupun kekuatan yang dimiliknya. Bagi sebagian orang ( seperti di gereja Etiopia dan Koptik), Pilatus adalah orang suci. Tapi bagi yang lainnya, termasuk saya, Pilatus menjadi gambaran kelemahan manusia. Seseorang yang egois dan takut menghadapi kebenaran.

Pontius Pilatus.

Selain Injil, kisah “Pontius Pilatus” ditulis juga oleh beberapa sejarawan. Dari penulis latin Pulius Cornelius Tacitus, kemudian Flavius Yosefus, penulis apologetik Yahudi abad pertama dan Filo, seorang filsuf keturunan Yahudi dari Aleksandria. Yang terbaru adalah “Ponzio Pilato, un enigma tra storia e memoria”, buku yang ditulis oleh sarjana hukum Romawi, Aldo Schiavone.

Pontius Pilatus lahir di Abruzzo, berasal dari keturunan Gens Pontia (Ponzi), bangsawan dari Campania, Italia selatan. Dia masuk dalam anggota ordo berkuda (kelompok sosial yang berada di bawah para senator) dan memiliki pengalaman dalam ketentaraan. Tahun 26 M, di usia 40 tahun, ia dikirim ke Yudea sebagai gubernur ( tepatnya prefektur) oleh Imperator Romawi Tiberius. 

Pilatus memegang jabatannya sampai tahun 37 M. Termasuk periode yang panjang untuk jabatan seorang prefek. Kekuasaannya pun meluas sampai ke Samaria dan Idumea. Dia tinggal dengan istrinya di sebuah kota pelabuhan, Kaisarea dengan rombongan kecilnya: para penulis, pelayan, pembawa berita (surat) dan lebih dari 1000 prajurit. 

Ketika bertugas, Pilatus mengenakan jubah kulit berwarna putih dan penutup dada dari logam. Dia bertanggung jawab menjaga ketertiban di provinsi dan mengelolanya secara hukum dan ekonomi. Menjadi kepala peradilan dan mengumpulkan pajak untuk memenuhi kebutuhan provinsi dan Roma. Pilatus juga terus berkomunikasi dengan Kaisar dalam hal kehormatan dan ancaman terhadap otoritas Roma.

Imperator Tiberius. 

Dalam menjalani tugas, Pilatus ternyata tidak fleksibel. Selain keras kepala, kejam dan korup, ia juga sering melakukan provokasi terbuka di Yerusalem. Memperkenalkan gambar-gambar Kaisar di Yerusalem, membangun saluran air dengan dana yang terkumpul di bait Allah dan untuk mengontrol pemberontakan, Pilatus juga memindahkan ibukota dari Kaisarea ke Yerusalem. Tindakan yang menimbulkan bentrokan dengan orang-orang Yahudi di Yerusalem.

Meskipun tidak menyetujui cara yang digunakannya, Tiberius tetap yakin Pilatus adalah sosok yang tepat memegang jabatan itu. Menjaga Yudea, yang di mata orang Romawi merupakan wilayah berbahaya. Masyarakatnya yang miskin, sombong, sulit diatur, dan percaya pada agama yang penuh dengan tahayul.

Imperator Tiberius berkuasa dari tahun 14 M sampai 37 M. Pada saat penobatannya, dia sudah menjadi pria yang matang. Pemerintahannya mendapat tanggapan positif dari masyarakat Romawi. Dia mampu mengevaluasi kompleksitas peran institusional yang dipercayakan kepadanya dan mampu mengelola keberadaan dan keberagaman kaum bangsawan dan senator.


Epigraf Pilatus di Kaisarea.

Namun yang membuat Tiberius kuatir adalah Yudea. Bersama dengan Suriah, Yudea merupakan wilayah penting untuk Kekaisaran Romawi. Kawasan yang menjadi pelindung utama kekaisaran dari serangan Parthia (salah satu kekuatan politik dan budaya Iran di Persia kuno).

Kaisarea adalah ibukota Yudea, sebuah kota yang dibangun di tepi Laut Mediterania oleh Herodes Agung. Namun, Yerusalem adalah kota utama di wilayah itu. Tempat dimana pusat agama Yahudi, kantor pengadilan dan Prefek Pilatus berada. Kota lainnya adalah Galilea, kota yang dikuasai oleh Herodes Antipas (salah satu putra Herodes Agung), juga seorang pengikut Romawi.

Sejak Romawi menguasai Yudea, keberadaannya seperti tidak diakui. Kematian Herodes Agung tahun 4 SM, menambah pemberontakan dan perpecahan di kawasan ini. Perbedaan budaya, antropologis dan peradaban sering menjadi pemicunya. Kadang ketegangan politik yang terkait dengan tuntutan agama bagaikan benang kusut yang sulit untuk diurai.

Kedatangan Romawi memang mengurangi kekuatan Sanhedrin, badan tertinggi bidang politik dan agama Yahudi. Majelis agama yang terdiri dari 71 anggota dalam arus keagamaan utama (Farisi dan Saduki). Mereka dipimpin oleh seorang imam besar yang dipilih oleh prefek Romawi. Mereka memiliki yurisdiksi atas masalah agama, namun hukuman mati atas pelanggaran ketertiban umum dan politik menjadi tanggung jawab Prefek Romawi.

“ Yesus di hadapan Pilatus “ karya Mihály Munkácsy (1881).

Pada saat itu, para imam Saduki, menganggap Yesus sebagai penghujat dan khotbahnya bisa mengancam tradisi Yahudi. Menurut hukum Yahudi, Yesus bisa dituntut hukum mati. Tetapi mereka tidak memiliki kekuatan, untuk itu mereka membutuhkan intervensi dari Prefek dan tentara Romawi.

Pilatus tidak menyangka peristiwa ini bisa menimbulkan percikan universal. Ketika terseret ke dalam pertikaian antara faksi-faksi Yahudi, sebagai otoritas Romawi, dia mencoba mencegahnya. Menyerahkan kasus itu kepada Herodes Antipas, raja wilayah Galilea namun gagal. Ingin membebaskannya, tapi tidak ingin hubungannya dengan Kayafas rusak. 

Ia mulai goyah ketika Sanhedrin mengancam akan melaporkannya pada Tiberius. Ia tidak ingin Tiberius kesal lagi. Perselisihan sebelumnya dengan orang – orang Yahudi telah menodai reputasinya. Namun jika ia menyerah pada keinginan orang Yahudi, bisa menjadi pertanda kelemahannya. Pilatus dihadapkan pada dilema.

Namun akhirnya Pilatus menyerah. Ia menempatkan kariernya di atas hati nurani dan keadilan. Mengambil air dan mencuci tangannya sebagai isyarat jika dirinya tidak bersalah. Dengan cara ini, Pilatus sudah memenuhi tugasnya menjaga ketertiban umum dan menjaga otoritas Imperator Tiberius.

Proses pengadilan yang mengubah arah sejarah manusia pun terjadi. Meskipun yakin orang itu tidak bersalah, Pilatus menyuruhnya mencambuk dan membiarkan para prajurit mengejeknya, memukulinya, meludahinya dan menyalibkannya.

Legenda Danau Pilatus.

Karir Pilatus berakhir tahun 37 M, ketika Gubernur Suriah, Lucio Vitellio memecatnya karena kekerasan yang lakukannya terhadap orang Samaria dalam pemberontakan di Gunung Garizim. Dia dipanggil Imperator, namun Tiberius sudah mati ketika Pilatus tiba di Roma. Di titik inilah, Pilatus keluar dari sejarah dan masuk dalam legenda.

Ada beberapa hipotesis tentang kematiannya, namun yang paling populer adalah legenda dari seorang penulis Perancis abad ke-15, Antoine de La Sale selama perjalanan ke Italia Tengah. Pontius Pilatus, dihukum mati oleh Imperator Vespasianus. Mayatnya dimasukan ke dalam karung dan diletakkan diatas gerobak yang ditarik kerbau. Gerobak itu dibiarkan bebas berkeliaran menuju lereng Monte Vettore di pegunungan Sibillini, akhirnya gerobak itu  terlempar ke “Lago di Pilato“.  Arrivederci….

Trailer “Lago di Pilato” Italia:

Sumber:
https://opusdei.org/it/article/32-chi-fu-ponzio-pilato/

Sunday, June 30, 2019

Indahnya Festival Bunga “Corpus Domini” Di Italia


Melihat warna warni bunga di musim semi itu hal biasa, tapi menciptakan karya seni dari warna warni bunga itu sangat luar biasa. Ini festival rutin tahunan di banyak kota di Italia. Dikenal dengan nama “Infiorata” yang berlangsung antara bulan Mei – Juni. Festival bunga yang pelaksanaannya bersamaan dengan perayaan keagamaan Corpus Domini.

Sebuah pekerjaan yang kompleks, sulit dan membutuhkan waktu yang lama dalam persiapannya. Melibatkan banyak orang, dari segala usia dan profesi, dari keluarga sampai perkumpulan yang ada di masyarakat. Sejak dari fase awal dalam penelitian, pengumpulan dan pemilihan bunga, sampai hari – hari menjelang perayaan. Memisahkan kelopak bunga sesuai dengan warna dan mencincang halus berbagai bahan pendukung lainnya. 

Bentuk pengorbanan dari mereka, untuk membantu para ahli bunga dan seniman menciptakan karya spetakuler. Melalui prosesi dan gambar yang dibuat dari berbagai jenis kelopak bunga dan bahan – bahan alami: tanah, rumput, biji – bijian, semak, rempah dan lain - lain. Dimulai dari sketsa kapur, kemudian mewarnainya dengan berbagai jenis bunga. Sehingga tercipta sebuah karpet bunga raksasa yang menghiasai jalanan dengan berbagai lukisan yang indah dan ikonografi suci yang kaya akan makna.

Infiorata Genzano 2019.

Kesibukan juga dialami oleh para penjaga keamanan. Mereka menutup jalan yang akan dipakai selama kegiatan berlangsung. Menyiapkan penerangan yang memadai, terutama di malam hari dan memasang perlindungan yang mampu menahan hujan dan angin, jika cuaca buruk datang.

Tradisi ini lahir di Basilika Vatikan awal abad ke-17. Sebuah ide dari kepala Florist Vatikan, Benedetto Drei dan putranya Pietro, ketika mempersiapkan perayaan keagamaan “ Santo Petrus dan Paulus ” tanggal 29 Juni 1625. Bagaimana memberikan penghormatan, tanpa harus memberi rangkaian bunga atau menabur serpihan – serpihan bunga. Hanya dengan melepaskan kelopak – kelopak bunga, kemudian menyusunnya menjadi sebuah mozaik.

Kisah mereka tertulis dalam buku berbahasa latin “De florum cultura” karya Giovan Battista Ferrari. Buku yang menggambarkan tampilan bunga pertama yang dibuat di Vatikan pada tanggal 29 Juni 1625….'rappresenterà la carnagione della faccia bruna il garofano ricamato. La rosa dipingerà le guance …( Anyelir bersulam akan mewakili corak wajah berwarna coklat. Mawar akan melukis pipi …), demikian bunyi dari salah satu paragrafnya.

Infiorata Spello 2019.

Setelah Benedetto Drei meninggal, rekan yang lain menggantikannya. Salah satunya Gian Lorenzo Bernini, seniman terkenal Italia yang berkarya besar di kota Roma. Lewat Bernini, tradisi infiorata Vatikan menyebar ke berbagai tempat di luar Lazio, bahkan sampai ke Palermo di pulau Sisilia.

Sepertinya tidak ada yang berubah sampai saat ini. Keindahannya, pesonanya dan keagungannya, masih terlihat dengan jelas di pesta bunga Infiorata Genzano 2019. Hamparan karpet bunga sepanjang 2 kilometer menutupi Via Livia kuno di kota Genzano. Dalam sebuah festival religius, historis dan folkloristic. yang berlangsung dari tanggal 22 – 24 Juni 2019.

Infiorata pertama di kota Gonzano berlangsung tahun 1782, ketika Pastor dari keuskupan Albano mengundang penduduk di Via Sforza membuat dekorasi bunga di depan rumah mereka. Tetapi ada juga yang berasumsi jika keluarga seniman Giovanni Hamerani yang pertama membuat dekorasi bunga pada saat prosesi Corpus Domini, di depan rumah mereka di Via Livia, sebelum kegiatan dipindah ke Via Sforza.

Yang pasti, Infiorata Genzano sangat populer dikalangan turis lokal maupun international. Mungkin karena ini festival bunga tertua di Italia dan lokasi yang tidak jauh dari Roma. Edisi ke 241 tahun ini, Infiorata Genzano mengangkat tema ‘La via della bellezza’ ( Jalan keindahan ). Dihadiri Lorenzo Quinn, seniman Italia kelahiran Roma, putra dari bintang Hollywood Anthony Quinn.

Infiorata Spello 2019. 

Namun infiorata terindah dan terlengkap, ada di kota Spello. Kota di wilayah Umbria dengan pemandangan alamnya yang indah karena berada di puncak Gunung Subasio. Infiorata yang berlangsung 22 – 24 Juni 2019, diramaikan dengan berbagai pameran dan perlombaan. Selain membuat karpet bunga, ada juga pameran sketsa, kompetisi bordir bermotif bunga, pameran lukisan, pameran foto dan kegiatan menarik lainnya. 

Tanpa festival bunga pun, Spello memang kota yang menarik untuk dikunjungi. Kota yang tidak hanya indah, tapi unik dan kaya akan sejarah. Deretan rumah – rumah berwarna merah muda, di sepanjang lorong yang penuh dengan warna warni bunga. Di antara jalan-jalan yang menanjak dan berbatu, berdiri gereja, museum dan monumen – monumen yang menyimpan karya - karya berharga. 

Di zaman Romawi kuno, kota ini bernama “Hispellum”. Didirikan tahun 336 SM oleh Imperator Augustus, untuk koloni barunya “Colonia Julia”. Jejak – jejak itu masih terlihat jelas sampai sekarang. Diantaranya tiga benteng yang masih berdiri kokoh menjaga kota ini: Porta Venere dan menara Propertius sebagai gerbang utama kota, Porta Consolare dan Porta Urbica.

Infiorata terunik ada di Selatan Italia, tepatnya di kota Noto pulau Sisilia. Unik karena temanya mengandung pesan dan harapan untuk komunitas Sisilia di seluruh dunia. Supaya Sisilia tetap dicintai dan dirangkul. Supaya mereka tidak lupa pulang dan berkunjung untuk berbagi cerita suka dan duka. Sebuah tema yang bisa menginspirasi para seniman dan ahli bunga lokal untuk membuat karpet bunga raksasa di sepanjang Via Corrado Nicolaci kota Noto.

Infiorata Noto 2019.

Jika tahun 2017, didedikasikan untuk Kerajaan Monako, tahun 2018 untuk Tiongkok, maka tahun 2019 infiorata didedikasikan untuk Amerika. Festival bunga edisi ke-40 ini, berlangsung dari tanggal 17 – 19 Mei 2019 dengan tema "Vieni ca ci cuntu - Storie di Sicilia in America"

Namun yang terpenting dari semua itu adalah ibadah Corpus Domini di minggu pagi. Lebih dikenal dengan Corpus Christi, salah satu perayaan utama di tahun liturgi Gereja Katolik untuk Ekaristi Kudus. Banyak kota di Italia merayakannya dengan prosesi yang berlangsung di jalan-jalan dan di Roma, prosesi dipimpin oleh Paus sendiri.

Setelah ibadah selesai dan tujuan keagamaan tercapai, deretan karpet bunga berharga itu mendapat penilaian dari para juri. Dan di puncak acara, Uskup dan semua yang hadir diizinkan berjalan di atas karpet bunga itu. Menginjaknya sambil menikmati keindahannya yang fana, namun memiliki makna yang dalam tentang nilai kemanusiaan, seni dan agama. Arrivederci…

Trailer Infiorata Genzano 2019:


Sumber :
http://www.eventiesagre.it/Eventi_Feste/21169325_Le+PiE+Belle+Infiorate+In+Italia.html

Wednesday, May 8, 2019

Piramida Mesir di kota Roma



Roma itu kota yang unik, rasanya tidak cukup, kalau hanya sekali mengunjunginya. Terlalu banyak yang bisa dilihat dan dipelajari, beberapa tempat kadang menyimpan misteri. Salah satunya Pyramid of Caius Cestius (Piramide di Caio Cestio dalam bahasa Italia atau Sepulcrum Cestii dalam bahasa Latin) yang terletak di sebelah Porta San Paolo, pintu gerbang selatan kota Roma yang menghadap ke jalan (Via) Ostiense. 

Piramida Mesir ini dibangun sekitar abad 18 - 12 SM, tepatnya setelah Romawi berhasil menaklukan Mesir tahun 31 SM. Setelah Mesir menjadi provinsi baru, budaya mewahnya menjadi populer di Roma kuno. Sempat terbengkalai selama ratusan tahun, pada tahun 1656, atas perintah Paus Alexander VII, piramida Caius Cestius untuk pertama kalinya digali dan direstorasi.

Asal usul Piramida, dicatat dengan jelas di dua prasasti yang terletak di sisi timur dan barat. Piramida Caius Cestius itu milik seorang politikus Romawi dan imam epulon. Di zaman Romawi, peran para imam epulones sangat penting. Mereka bagian dari dewan keagamaan pagan, yang bertugas mengurus ritual penghormatan kepada dewa – dewa utama di festival keagamaan. 

Porta San Paolo Roma.

Dalam sebuah surat wasiatnya, Caius ingin dibuatkan piramida sebagai makam pribadinya. Makam itu dibangun dalam waktu 330 hari oleh ahli warisnya. Seperti halnya para Firaun, Caius juga ingin semua kekayaan disimpan di kuburnya. Salah satunya permadani “Attalica” yang sangat berharga. Terbuat dari benang emas, seperti yang dimiliki Raja Persia waktu itu, Pergamum Attalus I.

Keinginan Caius tidak bisa terwujud, karena terhalang oleh undang – undang kemewahan yang baru dikeluarkan oleh Kaisar Augustus. Permadani itu akhirnya dijual, diganti dengan dua patung perungu almarhum yang diletakkan di pintu masuk monumen. Sayang, kedua patung perungu itu juga sudah hilang.

Jika dibandingkan dengan Piramida Giza di Mesir, struktur Piramida Cestius sedikit berbeda. Mungkin karena penggunaan bahan yang lebih sederhana dan mudah dipotong, bentuk sudut piramida Romawi lebih runcing, bentuk bangunannya lebih ramping dan dengan jumlah material yang sama, ketinggian Piramida Cestius bisa lebih tinggi dari piramida aslinya. 

Dasar bangunan piramida Cestius terbuat dari batu travertine, berbentuk persegi dengan panjang masing – masing sisi 30 meter. Tingginya mencapai 37 meter, disusun dari balok – balok marmer putih Carrara dan beton romawi (opus caementicium). Memiliki 4 tiang di setiap sudutnya ( kini hanya tersisa dua tiang) dan dikelilingi oleh pagar balok – balok batu tufa.

(Foto gbr: Piero Cargnino)

Ruang makam 

Di dalam gunung beton, ditemukan ruangan tunggal, yang volumenya tidak lebih dari 1% dari total volume piramida. Ketika digali, makam sudah kosong, tidak ada peti mati atau guci abu dan barang - barang berharga milik almarhum. Beberapa dinding berlubang, kemungkinan digali oleh para perampok makam untuk mencari harta karun.

Ruangan makam berbentuk kubah barel, dengan panjang 5,95 × 4,10 dan tinggi 4,80 meter. Dihiasi dengan gambar - gambar dekoratif bergaya ‘terzo stile’ Pompeian. Salah satu dari empat "style" lukisan Romawi, yang berkembang dari abad 15 SM - 45 M. Salah satu ciri khasnya adalah ornament - ornamen seperti: tokoh - tokoh bersayap, lilin, bunga, tunas tanaman, beberapa elemen mesir dan lain - lain.

Ruangan makam didominasi warna putih. Dinding dibingkai oleh cat tipis berwarna gelap, menjadi kotak-kotak besar. Dinding yang polos dihiasi gambar bermotif vas bunga, lilin dan sosok Nimfa (peri) yang duduk dan berdiri. Di setiap sudut langit - langit ada gambar empat wanita bersayap “Nike”, dengan mahkota dan rangkaian bunga di tangannya. Di pusat langit – langit, kemungkinan tempat ukiran wajah Cestius, namun hilang dicuri dan bekasnya dibiarkan berlubang. 

(Foto gbr: Ida Bertoni)

Gambar Nike di langit - langit makam.

Simbol – simbol gambar di ruang makam ini, seperti mengambarkan pendewaan Caius Cestius selama hidupnya. Diantaranya ada “Nimfa”, (dalam bahasa Yunani kuno: Νύμφη, Nymphē) yang identik dengan peri atau bidadari. Di Yunani kuno, Nimfa dipercaya sebagai dewi yang memiliki kekuatan ilahi dari alam: hutan, gunung , mata air dan air, pohon dan lain – lain.

Kemudian sosok wanita bersayap, simbol dewi kemenangan,  dalam bahasa Yunani disebut: Nike, Niche, Nίκη, atau Nice. Salah satu tokoh di mitologi yunani, putri dari Titan Pallante dan Nimfa Oceanina Styx. Di Italia, sosok wanita bersayap “Nike” dikenal dengan nama Vittoria Alata.

Tempat lilin (Il candelabro dalam bahasa Italia) sudah digunakan sejak zaman Etruria dan orang Romawi kuno. Bisa berbahan dasar kayu, perunggu atau marmer, ditempatkan di dalam kuil, di ruangan publik dan di tempat ibadah untuk memperindah ruangan. Dengan lilinnya yang menyala, Il candelabro menjadi simbol teman terpercaya dalam kegelapan. 

Kendi/vas dari tanah liat (l’ amphora dalam bahasa Italia) ini juga sudah ada sejak zaman kuno. Digunakan untuk membawa bahan makanan cair atau semi-cair, seperti anggur, minyak, madu, dll. Memiliki banyak jenis sesuai dengan peradaban waktu itu: Fenisia atau Punisia, Yunani, Etruska, Magna Graecia (Yunani-Italia kuno) dan Romawi. Ini juga salah satu benda yang dekat dengan para imam. Bentuk bisa meruncing atau bulat dan memiliki dua pegangan.


Nike /Vittoria Alata di Museum Brescia Italia.

Terlepas dari berbagai simbol dan misteri yang tersimpan di dalamnya, Piramida Cestius menjadi satu – satunya piramida yang dibangun di luar Mesir dan masih berdiri kokoh hingga kini. Padahal di zaman Kaisar Augustus, Roma memiliki beberapa Piramida Mesir, namun dihancurkan atas nama pembangunan. 

Ketika Porta San Paolo dan benteng Aurelian dibangun antara tahun 270 dan 279 M. Kaisar Aureliano meminta supaya piramida dimasukkan ke dalam benteng. Berkat ide Kaisar, Piramida Cestius selamat dari penjarahan dan penghancuran bangunan – bangunan Romawi selama berabad – abad dan dari pemboman selama Perang Dunia II. 

Piramida direnovasi kembali, berkat bantuan  dari pengusaha Jepang Yuzo Yagi, pemilik Yagi Tsusho Ltd (distributor produk-produk fashion Italia di Jepang). Menghabiskan dana sekitar 2 juta euro, proyek ini selesai bulan  April 2015  dan diresmikan oleh walikota Roma Ignazio Marino. Piramida Cestius pun kembali  putih bersinar. Arriverderci

Trailer Piramida “Caio Cestio” Roma:


Sumber : 
https://www.romanoimpero.com/2010/03/piramide-di-caio-cestio.html

More articles

Holocaust Memorial Milan.

Other posts