Monday, February 18, 2019

Mata air Dewa di Umbria, Italia.



Mata air “Clitunno”, demikian masyarakat Italia menyebutnya. Air yang keluar dari retakan batu, membentuk kolam, kemudian menjadi sungai yang mengalir sejauh 60 km di wilayah Umbria, Italia tengah. Terletak di wilayah sepanjang jalan kuno Via Flaminia, diantara kota Spoleto dan Foligno. Mata air yang telah memberikan kehidupan bagi masyarakat di kota Pissignano, Cannaiola, Trevi, Bevagna dan bermuara di sungai Tevere (Tiber). Sejak tahun 2011, kawasan ini masuk dalam daftar perlindungan UNESCO.

Di zaman kuno, mata air ini dipercaya sebagai penjelmaan dewa Clitumnus. Bagi kaum pagan (kepercayaan kuno), hutan, sungai, gua, adalah tempat yang menyembunyikan kehidupan lain yang misterius. Bagaikan cermin, air juga menyembunyikan dunia yang lain dan sungai itu sendiri adalah Dewa. Selama bulan Mei, bangsa Etruria ( bangsa kuno yang menguasai wilayah Umbria waktu itu), melakukan ritual clitumnalia suci di tempat ini.

Sekitar tahun 217 SM, dalam perang Punisia ke-dua, bangsa Romawi kuno berhasil menguasai kawasan ini. Mereka juga menyebutnya mata air “Dio Giove Clitunno” (Dewa Jupiter Clitunno). Seperti yang tercantum dalam prasasti kuno: “Giove Clitumno ,Clitumnus Umbriae, ubi Juppiter eodem nomine est”, yang artinya "Dewa Clitumno dari Umbria, yang disebut juga Jupiter".

Patung Dio Giove Clitunno.

Dalam mitologi Romawi, Giove (latin: Iupiter, Iuppiter, Iovem, atau Diespiter), adalah dewa tertinggi di dunia dewa. Prinsip yang sama digunakan dalam mitologi Yunani, yang dikenal dengan nama dewa Zeus dan Tinia dalam agama Etruscan. Dewa dengan simbol petir dan guntur, putra dari dewa Saturnus dan dewi Opi.

Di masa kejayaan Romawi kuno, perahu – perahu di sungai Clitunno bisa berlayar sampai ke Roma. Di sepanjang tepinya, berderet rumah – rumah megah dan spa, tempat para bangsawan memanjakan diri. Saat Imperator Caligola berkuasa, kawasan ini dikenal juga sebagai tempat melakukan ritual. Tidak jauh dari sumber mata air, mereka membangun tiga buah kuil penghormatan bagi sang Dewa. 

Kuil Clintunno adalah salah satu kuil yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Terletak di kota Campello sul Clitunno, 1 km jauhnya dari mata air sang Dewa. Dibangun sekitar abad pertengahan, dengan karya seni bernilai tinggi. Berbentuk candi klasik, memiliki altar, empat pilar bergaya korintus dan ada dua tangga batu disetiap sisinya.

Kuil “Clitunno“.

Di periode awal keKristenan, kuil Clintunno berubah menjadi sebuah gereja. Didedikasikan untuk Santo Salvatore dan dipergunakan sebagai tempat ibadah selama bertahun – tahun. Gereja kuil ini dianggap sebagai mahakarya berharga oleh para ahli, karena dibangun oleh para arsitek hebat di masanya, seperti: Andea Palladio, Giocanni Battista Piranesi dan Luigi Vanvitelli.

Kawasan ini sempat porak poranda, ketika dua gempa besar terjadi di Italia. Gempa Costantinopoli tahun 446 dan gempa L'Aquila pada tahun 1703. Dicoba dibangun kembali seperti semula, namun tidak berhasil. Pada tahun 1860 – 1865, atas perintah Paolo Campello della Spina, tanah – tanah di area ini sebagian dipindahkan. Dengan proyek ini kolam Clintunno menjadi lebih luas dan vegetasi lingkungan pun berkembang.

Sejak diresmikan tahun 1852, tempat ini belum terlalu dikenal di dunia pariwisata, bahkan dikalangan masyarakat Italia sendiri. Mungkin karena terlihat sederhana dan dibiarkan terlihat alami. Namun bagi beberapa kalangan, tempat ini memyimpan kesan dan daya tariknya tersendiri.

Prasasti Carducci.

Mereka adalah para pelukis dan penyair, yang terinspirasi oleh keindahan dan kedamaian tempat ini. Beberapa seniman, baik dari Italia maupun mancanegara, menyelipkan nama Clintunno dalam karya – karya besarnya. Diantaranya: penyair Inggris, Thomas Macaulay dalam karyanya “Canti di Roma antica” dan penyair Polandia, Ladislao Kulczycki yang menyebut “Sacro Fiume”( sungai suci) dalam syair lagunya.

Pada tahun 1876, penyair Italia Giosuè Carducci, mengungkapkan kegaguman tempat ini dalam puisinya. Bahkan namanya terukir dalam sebuah prasasti, ketika berkunjung ke tempat ini tahun 1910. Prasasti berbentuk lempeng marmer yang diukir oleh Leonardo Bistolfi dan Ugo Ojetti untuk reliefnya. 

Dengan luas sekitar 160.000 m2, danau Clintunno juga memiliki keanekaragaman hayati didalamnya. Dari lumut, hippuris vulgaris (ekor kuda air), alisma, callitrice stagnalis dan berbagai jenis tumbuhan air lainnya. Di tepi danau, berbaris rapih pohon pòpulus nigra (salah satu jenis pohon cemara), Fraxinus excelsior, cupressus dan pohon salix babylonica ( berasal dari Cina utara).

Mengunjungi tempat ini, bukan sekedar melihat mata air semata. Sejarah dan seni sastranya juga menarik untuk dipelajari. Cukup membayar tiket masuk € 3 per orang, tiket itu berlaku sepanjang hari. Di dalam area, ada sebuah restoran yang menawarkan berbagai menu khas Umbria. Jika membawa bekal dari rumah, area piknik tersedia juga di tempat ini. 



Berjalan santai di sekitar danau, adalah kegiatan yang menyenangkan di awal musim panas. Menghirup udara segar di bawah naungan tanaman hijau nan rimbun, sambil mendengarkan kicauan burung – burung bernyanyi. Saat hening, perhatikan gerak – gerik ikan di danau, yang menari bahagia melihat mentari.

Ketika lelah berjalan, silahkan duduk santai di kursi kayu. Mendengarkan gemericik suara air sungai yang mengalir atau mendengar riuh rendah suara bebek dan angsa yang sibuk berenang tanpa lelah. Kadang – kadang suasana berubah melankonis, saat muncul warna – warni alami, karena pantulan cahaya dari air sungai yang jernih. 

Bersemedi dan melakukan relaksasi adalah kegiatan yang lebih menyenangkan lagi. Menikmati hembusan angin yang membawa aroma kuno, yang terjaga selama berabad – abad. Membayangkan jika aura mistik itu benar – benar ada, dan isi puisi itu nyata: “Ma tu, o Clitumno! Dalla tua dolcissima onda del più lucente cristallo che mai abbia offerto rifugio a ninfa fluviale”…..

Trailer Fonti-Clitunno: 


Thursday, February 14, 2019

Mengenang Santo Valentinus dari Terni.


                          ( foto: Arsip Basilika San Valentino)

Terni adalah kota cinta, karena di kota inilah “acara khusus untuk semua kekasih” itu berasal. Jejak – jejak kehidupan “Santo pelindung kekasih” masih terlihat jelas di kota ini, bahkan menjadi Santo pelindung kota Terni itu sendiri. Catatan tertua tentang Santo Valentinus ( Italia: San Valentino) dapat ditelusuri dari dokumen resmi Gereja abad V-VI M dan abad VIII, yang menceritakan tentang kematiannya sebagai seorang martir.

San Valentino lahir di kota Terni (dahulu : Interamna Nahara), tahun 176 M, dari keluarga bangsawan. Ia bertobat di usia 21 tahun. Berkat semangatnya, pada tahun 197 M, ia ditahbiskan menjadi uskup kota Terni oleh  Santo Felicianus.

Pada tahun 270 M, ia pergi ke Roma untuk mengabarkan Injil dan mengajak orang – orang kafir bertobat. Semangatnya tidak bisa luput dari perhatian penguasa Roma, yang berusaha membujuknya untuk kembali ke paganisme. Namun San Valentino menolak, ia tetap teguh mempertahankan imannya. 

Atas perintah Marcus Aurelius Flavius Valerius Claudius atau Claudius II ( berkuasa: 213 -270 M), San Valentino ditangkap untuk pertama kalinya, ia diampuni dan dibebaskan. Bersama dengan St. Mario dan keluarganya, ia melayani para martir yang dipenjara. Meskipun penganiayaan terhadap orang-orang Kristen tiada henti, ia terus mengabarkan injil dan pertobatan, popularitasnya pun meningkat di seluruh kekaisaran.


                                   ( foto: Arsip Basilika San Valentino)

Pada tanggal 14 Februari 273 M, para prajurit romawi pun menangkapnya untuk kedua kalinya. Atas perintah Imperator Lucius Domitian Aureliano, ia dicambuk di sepanjang jalan Flaminia Roma, kemudian dihukum mati di usia 97, dengan cara dipenggal oleh prajurit Furius Placidus.

Tubuhnya kemudian dimakamkan di pemakaman di Via Flaminia. Tetapi murid-muridnya Procolo, Efebo dan Apollonio, menggali kuburan itu dan membawa jenazahnya ke Terni, ke tanah kelahirannya, di mana ia menjadi uskup.

Namanya kembali diangkat oleh Paus Gelasius, ketika menetapkan tanggal 14 Februari 496 sebagai hari St. Valentine. Keputusan diambil sesuai dekrit 496, untuk mengakhiri pesta "Lupercalia" paganisme, yang populer dilakukan orang – orang Romawi. Menyembah berhala dengan melakukan ritual pengorbanan kepada dewa Lupercus (dewa kesuburan), yang berlangsung dari tanggal 13- 15  Februari.

Berbagai kisah hidup San Valentino diceritakan banyak orang secara turun temurun. Salah satu kisah menceritakan saat San Valentino membela kaum muda dalam memperjuangkan cinta mereka. Ia menjadi orang religius pertama yang memberkati pernikahan sepasang kekasih “Sabino e Serapia” yang berbeda iman. Perwira muda romawi Sabino pagan dengan gadis muda kristen, Ternana Serapia


"Sabino dan Serapia”. ( foto: Arsip Basilika San Valentino)

Pernikahan ini, menjadi salah satu alasan, mengapa San Valentino dipenggal. Hukum Romawi waktu itu, melarang kaum muda menikah. Karena kaum pria dianggap lebih berguna di medan perang daripada di rumah bersama istrinya. Dengan menikahkan “Sabino e Serapia”, San Valentino dianggap menentang hukum dan melakukan kejahatan serius di mata penguasa. 

Kisah lainnya menceritakan San Valentino selalu mengajarkan kasih sayang dan mendamaikan banyak orang. Ia mendamaikan sepasang kekasih, yang sedang bertengkar di sebuah taman. Pergi menemuinya, memberi mereka bunga mawar dan meminta mereka untuk berdamai. Kemudian ia berdoa agar Tuhan menjaga cinta mereka tetap hidup selamanya. Beberapa waktu kemudian pasangan itu kembali ke San Valentino, memohon diberkati pernikahannya.

Ia juga dikenal sangat menyayangi anak – anak. Setiap sore, ketika keluar dari kapel, ia selalu menghampiri anak – anak yang sedang bermain di sebuah taman. Memberkati mereka, kemudian memberi mereka masing-masing setangkai bunga. Ia berharap akan tumbuh rasa sayang di hati anak- anak itu, kepada orang tua, keluarga dan sesama.


Basilika San Valentino di kota Terni. ( foto: Arsip Basilika San Valentino)

Pada saat penguasa Romawi menangkap dan memasukannya ke penjara. San Valentino selalu membuat sebuah catatan kecil untuk anak – anak yang disayanginya. Berharap suatu hari, ada burung merpati yang hinggap di jendela selnya. Sehingga,  ia bisa mengikat catatan itu dilehernya dan menyampaikan pesan itu: "A tutti i bambini che amo.. dal vostro Valentino” (Untuk semua anak yang aku cintai ... dari Valentino).

Kemudian tentang perasaan sayangnya kepada gadis buta dan kepeduliannya kepada penderita epilepsi. Nama Santo dikukuhkan oleh Paus Gregorius Agung, sebagai “valorem tenens”, seseorang yang bertahan dalam kekudusan. Ia pun dihormati sebagai orang suci oleh Gereja Katolik, oleh Gereja Ortodoks dan Gereja Anglikan

Abad ke-4 M, di atas pemakaman kristen kuno Terni, dibangun Basilika San Valentino. Namun, bersama-sama dengan kota Terni, basilika San Valentino pun dihancurkan oleh bangsa Goth (suku-suku Jermanik timur/Scandinavia), ketika menyerbu Eropa tengah-selatan tahun 541 M. Pada abad ke-7 M, Gereja kembali dibangun  oleh ordo Benediktin, dalam dua tahap. Yang pertama antara tahun 625 – 632 M dan yang kedua antara tahun  642 – 648 M.


Altar Basilika San Valentino. ( foto: Arsip Basilika San Valentino)

Basilika San Valentino yang sekarang, dibangun pada tahun 1605, di atas puing-puing gereja sebelumnya. Tepat di atas makam martir, dibangun sebuah altar. Di tengahnya terdapat sebuah lukisan abad ke-17 yang menceritakan kemartiran Santo. Di gereja ini, setiap tanggal 14 Februari, diadakan "Festa della Promessa”. Ibadah yang diikuti ratusan pasangan yang datang dari seluruh Italia, untuk berjanji saling mengasihi atau memperbaharui kembali janji nikah mereka.

Di negara-negara yang berbudaya Anglo-Saxon ( Inggris, Irlandia, Amerika Serikat dan Australia), hari Valentine mempunyai ciri khasnya tersendiri. Berawal dari sebuah puisi “Parlement of Foules” yang ditulis Geoffrey Chaucer tahun 1382, menjadikan hari Valentine identik dengan pertukaran kartu dalam berbagai bentuk dan simbol, seperti : berbentuk hati, merpati, gambar Cupid dan lain – lain.

Di abad ke-19, terinspirasi dari tradisi di Inggris, beberapa pengusaha Amerika Serikat seperti Esther Howland (1828-1904) mulai memproduksi kartu Hari Valentine berskala industri. Proses yang mendorong komersialisasi, yang menjadikan hari Valentine menjadi tradisi populer di dunia. Komersialisasi itu terus berlanjut sampai sekarang. Ketika tradisi kartu cinta berubah menjadi tradisi bertukar hadiah dengan sekotak coklat, karangan bunga atau perhiasan. Buon San Valentino …

Trailer "Festa della Promessa” di kota Terni:


Sumber : https://www.focus.it/cultura/storia/san-valentino-storia

Monday, January 28, 2019

Kastil "The Little Mermaid" di kota Montreux, Swiss.


Jika Anda penggemar kartun Disney dan sedang berada di Swiss, sempatkanlah mengunjungi Castle of Chillon di kota Montreux. Kastil yang menginspirasi desainer Disney untuk membuat istana Pangeran Erik dalam film kartun "The Little Mermaid". Kastil bersejarah yang paling banyak dikunjungi di negara ini.

Kastil Chillon dikenal juga dengan sebutan kastil air. Berdiri dengan megah di sebuah pulau berbatu di ujung timur danau Jenewa. Mulai dibangun sekitar tahun 1000, di titik strategis perbatasan utara dan selatan Eropa. Dengan latar belakang pemandangan alam yang luar biasa indahnya, karena berada diantara danau Jenewa, sungai Rhone, pegunungan Alpen dan kota Montreux. 

Pada tahun 1150, kastil berhasil dikuasai oleh kerajaan Savoy dan sejak tahun 1200, kastil dijadikan rumah kediaman keluarga Kerajaan. Di bawah perintah Pangeran Tommaso I Savoy (1189-1233), kastil Chillon direnovasi dan diperluas di bagian lantai dasar bangunan.

Castle of Chillon.

Tahun 1536, ketika dikuasai kerajaan Bernese, kastil Chillon berubah fungsi menjadi benteng pertahanan, gudang senjata dan penjara. Setelah dimiliki penguasa Vaud tahun 1803, sedikit demi sedikit kastil direstrukturisasi. Proyek ini berhasil menyatukan bayangan masa lalu dan cahaya masa depan kastil dengan mengubahnya menjadi museum dan objek wisata, namun perannya sebagai penjara tetap dipertahankan.

Kini, kastil Chillon menawarkan berbagai kegiatan sepanjang tahunnya, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Menyediakan tur pemandu, mengadakan berbagai pameran dan lokakarya, acara – acara pribadi seperti pesta ulang tahun dan lain – lain.

Kastil dibuka untuk umum setiap harinya, kecuali tanggal 1 Januari ( Tahun baru) dan 25 Desember (Natal). Selama musim dingin (November – Februari ) buka dari jam 10.00 – 17.00. Untuk bulan Maret dan Oktober, kastil buka dari jam 9.30 – 18.00. Musim panas, kastil Chillon buka lebih panjang, mulai dari jam 9.00 – 19.00. 

Ruangan bawah tanah kastil Chillon.

Tempat ini mudah dicapai, karena kereta api atau bis umum dari kota – kota besar Swiss, banyak yang menuju kota Montreux. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari perbatasan Italia – Swiss, diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. Kendaraan melewati Gran San Bernardo, terowongan sepanjang 5.798 m yang menghubungkan lembah Aosta - Italia dan wilayah Valais - Swiss.

Sampai di tempat tujuan, parkir kendaraan di area parkir yang tidak jauh dari kastil. Kemudian berjalan melewati jembatan kayu dan menuju pintu gerbang utama. Namun sebelum membeli tiket masuk, sempatkan berjalan – jalan di sebuah taman yang indah di sekitar kastil atau menikmati pemandangan alam di sekitar danau.

Begitu masuk kastil, kita akan langsung diarahkan pemandu ke ruangan bawah tanah. Lorong panjang yang digunakan sebagai penjara kuno sejak tahun 1290. Di tempat ini banyak para sandera dan tahanan kehilangan harapan dan mati kedinginan. Jejak – jejak itu masih terlihat jelas, saat kita melewatinya. Cahaya terang yang masuk hanya dari jendela kecil dan rantai – rantai itu masih terikat kuat pada tiang – tiang yang kokoh. 

Koleksi senjata kerajaan Savoy.

Suasana pilu dan sendu berubah seketika, saat kita memasuki rumah kediaman bangsawan Chillon. Membayangkan kehidupan mereka saat itu, sambil memasuki ruangan itu satu per satu. Ada ruang makan Castellano, kamar tidur Bernese, ruang Pietro II Savoy, aula Nova dei Savoia dan kapel St. George tempat keluarga kerajaan berdoa. Sepanjang dinding terlihat lambang - lambang kerajaan Savoy. Lambang bermotif chevron merah dengan latar belakang putih yang dilukis oleh Ernest Correvon. 

Dibeberapa titik di kastil ini memiliki panorama yang indah untuk dinikmati dan diabadikan. Terlihat ada pintu gerbang kecil untuk bongkar muat barang atau pintu untuk melarikan diri melalui danau. Pintu pelarian ini pernah digunakan pada tahun 1536, ketika kastil ditaklukkan orang-orang Bernese. 

L’aula magna del castello adalah ruangan tempat keluarga Savoy menerima tamu. Ruangan berlantai marmer hitam dengan jendela besar yang langsung menghadap danau Jenewa. Beberapa menara juga bisa kita kunjungi, diantaranya: menara pertahanan, termasuk ruangan koleksi senjata dan menara yang digunakan sebagai ruangan parlemen kerajaan Savoy.

Salah satu sudut kota Montreux.

Sebenarnya puisi yang berjudul “The Prisoner of Chillon” adalah salah satu alasan, mengapa kastil Chillon terkenal di Eropa dan dunia. Puisi 392 baris yang ditulis dalam bentuk novel oleh sastrawan Inggris, Lord Byron pada tahun 1816. Puisi dengan dasar sejarah yang akurat, menginspirasi Byron juga untuk membuat operet terkenal "Byroniano". Mengisahkan penderitaan seorang biarawan Genevois, François Bonivard yang dipenjara di kastil Chillon dari tahun 1532 sampai tahun 1536.

Beberapa baris puisi itu…..

Lake Leman lies by Chillon’s walls:
A thousand feet in depth below
Its massy waters meet and flow;

Thus much the fathom-line was sent
From Chillon’s snow-white battlement,
Which round about the wave enthrals:

A double dungeon wall and wave
Have made – and like a living grave
Below the surface of the lake

The dark vault lies wherein we lay .
…..

Sejak saat itu atau sekitar akhir tahun 1800-an, kawasan ini menjadi tempat tinggal favorit para bangsawan Eropa, terutama bangsawan Inggris. Banyak diantara mereka tertarik dan terpesona oleh novel Lord Byron, selain dari itu, Montreux memang kota yang sangat menawan dan romantis. 

Kota yang bisa membuat orang langsung jatuh hati, saat pertama kali mengunjunginya. Kota yang tenang, bersih dan tertata dengan rapi. Bangunan –bangunan kuno dan modern berdiri berdampingan, semakin indah dengan keberadaan rumah – rumah asli bergaya Art Nouveau

Danau Jenewa.

Riak danau Jenewa dan salju yang menutupi pegunungan Alpen menambah suasana kota Montreux semakin damai. Maka gak heran, kalau kota ini menjadi dambaan banyak orang di seluruh dunia untuk mengisi hari libur mereka. 

Berjalan santai sepanjang tepi danau, saat matahari mulai meninggi di musim semi. Memandang dari kejauhan kebun – kebun anggur yang ditanam bertingkat, dari puncak yang curam menuju ke arah danau.

Sesekali duduk di taman di bawah pohon pinus atau pohon palem sambil melihat bunga – bunga aiuole bermekaran. Saat tak satupun perahu melintas di danau yang tenang, pertanda angsa, burung camar, bebek dan ikan - ikan menjadi tuan rumah, yang akan menerima kita dengan ramah. Arrivederci…

Trailer Castle of Chillon:


Sumber:
http://www.vperviaggiare.it/visitare-castello-di-chillon/

Wednesday, January 9, 2019

Istana kerajaan Savoy di kota Turin.


Perayaan “Festa della Republica Italiana” (Ulang tahun Republik Italia) tanggal 2 Juni 2018 yang  menginspirasi saya menulis artikel ini. Peringatan yang dirayakan di semua kota Italia sebagai hari lahirnya Republik Italia. Hasil dari referendum 72 tahun silam, saat mereka diberikan kesempatan untuk memilih sistem pemerintahan. Hasilnya 54,3% pemilih ingin mengakhiri sistem monarki dan berubah menjadi republik.

Sistem monarki berlaku sejak kerajaan Italia berdiri tanggal 17 Maret 1861. Bersamaan dengan itu, kota Turin juga dinobatkan sebagai ibukota kerajaan. Sebelumnya, tanggal 26 Oktober 1860 di kota Tieno Caserta, Italia resmi dipersatukan. Keputusan yang diambil setelah pertemuan antara Raja Vittorio Emanuele II dan Giuseppe Garibaldi.

Il Palazzo Reale Torino.

Sejak jatuhnya Kekaisaran Romawi tahun 476 M, sebenarnya Italia sudah menjadi sebuah negara, namun belum bersatu. Dari  utara sampai selatan, Italia masih terbagi dari kerajaan - kerajaan kecil. Di wilayah utara, ada il regno Lombardo-Veneto (kerajaan Lombardy-Veneto Raya) dan il Regno di Piedmont (kerajaan Piedmont) yang diperintah oleh raja Vittorio Emanuele I.

Di wilayah selatan, ada il Regno di Sardegna (kerajaan Sardegna) dan il Regno delle Due Sicilie yang dipimpin oleh dinasti Bourbon. Wilayah Italia tengah diperintah oleh Paus. Di wilayah Tuscany dipimpin oleh beberapa adipati, seperti adipati Modena, Massa, Carrara, Lucca dan Parma.

Dalam proses penyatuan Italia, jalan yang harus dilalui juga tidak mudah. Perang dan pertumpahan darah beberapakali terjadi. Dimulai di daerah – daerah yang dikendalikan oleh kekaisaran Austria, kemudian berubah menjadi perang nyata dalam melawan penjajah asing. Diantaranya, perang yang dipimpin raja Sardinia Carlo Alberto Savoia tahun 1848 dan 1859. Namun pertempuran “la spedizione dei Mille” tahun 1860 adalah dasar dari pembentukan Italia bersatu. 

Kerajaan – kerajaan  sebelum persatuan Italia.

Pada tahun 1870, Raja Victor Emmanuel II berhasil menaklukkan beberapa wilayah di Italia tengah termasuk Roma dan Veneto di wilayah Italia utara. Tahun 1871 seluruh semenanjung berhasil dipersatukan. Kemudian ibukota kerajaan Italia juga dipindahkan, dari kota Turin ke kota Roma.

Meskipun tidak menyandang sebagai ibukota negara, kota Turin masih menyimpan jejak - jejak yang jelas sebagai ibukota kerajaan “Savoy”. Salah satunya il Palazzo Reale Torino yang terletak di jantung kota Turin, tepatnya di depan Piazzeta Reale atau Piazza Castello. Sebuah istana yang luas dan megah lengkap dengan tamannya yang indah. Sejak 1997, il Palazzo Reale Torino masuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.

Karena letaknya di pusat kota, il Palazzo Reale Torino bisa dicapai dengan mudah. Kita bisa berjalan kaki dari stasiun kereta api sentral Turin atau dari beberapa terminal bis umum kota Turin. Jika membawa kendaraan pribadi, tempat parkir kendaraan juga banyak tersedia di kota ini.

Salah satu sudut kota Turin.

Untuk bisa masuk gratis ke istana ini, datanglah hari minggu pertama setiap bulannya. Selain hari itu, kita harus membayar tiket masuk seharga 12 € per orang. Tiket ini memungkinkan kita masuk ke beberapa ruangan di istana, seperti : il Palazzo Reale (rumah kediaman keluarga kerajaan), Armeria Reale (museum senjata), Galleria Sabauda (galeri seni) dan Museo Archeologico (museum arkeologi).

Jika ingin mengunjungin tiap tempat menarik di kota ini, pemerintah kota menyediakan program Piemonte Card. Kartu yang bisa memberikan kita akses masuk ke banyak museum di kota Turin, plus tiket transportasi kota (bus, trem, metro) dengan harga yang lebih murah.

Beberapa tahun yang lalu, saya juga pernah mengunjungi kota ini. Melihat rumah kediaman keluarga kerajaan Savoy yang mereka tinggali sampai tahun 1865. Saat pertama kali masuk ke il Palazzo Reale Torino, mata saya langsung terbelalak. Melihat rumah yang menggambarkan kehidupan para bangsawan di zaman keemasan. Membayangkan gaya hidup mewah mereka yang bertaburan emas dan batu mulia selama 3 abad.

Salah satu lorong di Palazzo Reale.

Istana pertama raja-raja Italia ini, dirancang oleh arsitek Amedeo di Castellamonte. Memiliki ratusan ruangan dengan langit-langit yang luar biasa indahnya. Dekorasi di setiap kamar dan ruangan istana bergaya baroque, gaya hidup yang mendominasi Eropa saat itu. 

Sebagai sumber ilmu pengetahuan, istana ini juga di lengkapi dengan ruangan perpustakaan kerajaan. Perpustakaan ini menyimpan lebih dari 200.000 buku, peta kuno, ukiran dan lukisan-lukisan keluarga kerajaan. Karya – karya yang diwariskan selama ribuan tahun oleh para sarjana dan ilmuwan di berbagai era, diantaranya pelukis terkenal Italia Leonardo da Vinci.

Berbagai benda seni Eropa dari abad ke-15 sampai ke-17 yang bernilai tinggi dengan segala kemegahannya dipamerkan di galeri seni Sabauda. Di lantai bawah bangunan ini terdapat museum arkeologi yang memamerkan batu-batu nisan, patung-patung tokoh Romawi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kota-kota kuno di zaman Romawi. 

Salah satu ruangan di Palazzo Reale.

Ruangan yang paling menarik adalah Armeria Reale (koleksi peralatan perang kerajaan Savoy). Galeri ini didirikan tahun 1832 oleh Carlo Alberto dengan nama "Royal Art Gallery". Pada mulanya, hanya untuk koleksi senjata dan peralatan perang yang dimiliki keluarga kerajaan. Senjata – senjata itu berasal dari kota Turin, Genoa, Milan dan Brescia. 

Namun kini, lebih dari 5000 benda antik dipamerkan di museum ini. Mulai dari senjata zaman prasejarah hingga awal abad ke-20, seperti: baju-baju besi lengkap dengan senjatanya, berbagai macam koin mata uang dan lain - lain. 

Hidup dibawah rezim totaliter dan sistem monarki selama berpuluh – puluh tahun, membuat rakyat Italia menderita. Kebebasan itu akhirnya terwujud lewat hasil referendum 1946. Sempat terjadi kontroversi yang menimbulkan perselisihan, dan hampir terjadi kembali perang saudara. Pada akhirnya raja Umberto II menerima keputusan dan bersama keluarganya pergi meninggalkan Italia.

Salah satu ruangan di Palazzo Reale.

Dalam satu program televisi Italia “La storia siamo noi”, kisah raja terakhir kerajaan Savoy ini pernah dibahas. Raja yang dikenal luas dengan sebutan “il Re di Maggio”. Letnan pertama kerajaan, yang naik tahta menggantikan ayahnya sebulan sebelum referendum. Dalam kalimat penutup, diceritakan tentang kisah sedih Raja Umberto II di akhir kehidupannya. 

Setelah penantian yang panjang dan pengharapan bisa menghabiskan hari-hari terakhir di tanah airnya, terasa sia-sia. Raja Umberto II akhirnya meninggal tanggal 18 maret 1983 di usia 76 tahun. Sang raja pergi untuk selama - lamanya di Jenewa, tanpa didampingi istrinya Maria Josè. Sang raja menghembuskan nafas terakhirnya di tempat pengasingan hanya didampingi orang-orang yang setia dan yang selalu membantunya. Arrivederci….

Trailer il Palazzo Reale Torino :

Sumber :
http://www.ilpalazzorealeditorino.it/

Wednesday, December 26, 2018

Tradisi Natal di Italia.


Hari raya keagamaan adalah salah satu momen yang bisa menyatukan semua orang. Di Italia suasana itu sudah mulai terasa sejak akhir November lalu. Dalam kalender gerejawi lebih dikenal dengan nama “Il periodo natalizio”, rangkaian kegiatan Natal yang dimulai akhir November (masa advent) dan berakhir pada 6 Januari ( minggu Epiphany).

Italia juga memiliki tradisi Natal yang berbeda – beda di setiap wilayahnya. Mulai dari tanggal penyalaan lampu, bentuk ornamen – ornamen, makanan & kue - kue dan tradisi – tradisi unik lainnya. Perbedaan yang indah, membuat banyak orang ingin mengenalnya kemudian menghargainya. 

Penyalaan lampu Natal di kota – kota Italia, pada umumnya dilakukan di minggu pertama bulan Desember. Di kota Milan, penyalaan lampu Natal dilakukan tanggal 7 Desember, bertepatan dengan pesta St. Ambrose. Di Bari, penyalaan lampu dilakukan tanggal 6 Desember, bersamaan dengan pesta St. Nicholas.

Kota Gallarate 2018.

Dari begitu banyak ornamen Natal, “Il presepe” dari kota Naples adalah ornamen yang paling menarik bagi saya. Ornamen diorama kelahiran Yesus yang terdiri dari patung – patung kecil: bunda Maria, Yusuf, palungan, bayi Yesus, tiga orang majus, para gembala, lengkap dengan hewan – hewannya dan suasana saat itu.

Ornamen Natal ini diciptakan oleh Santo Fransiskus dari Asisi. Atas izin Paus Honorius III, diorama ini tampil untuk pertama kalinya tahun 1223 dalam acara malam Natal di kota Greccio, Umbria. Pada tahun 1289, patung – patung ini diperbaharui kembali oleh pematung Arnolfo di Cambio. Kini diorama itu disimpan di Basilika Santa Maria Maggiore Roma. 

Karya “Santo Fransiskus dari Asisi” ini menginspirasi para seniman lainnya di wilayah Tuscani, seperti: kota Naples, Bologna dan Genoa. Mereka menciptakan diorama dari berbagai jenis bahan, seperti: kayu, tanah liat dan lain – lain. Pada tahun 1800, tradisi ini menyebar dengan cepat ke seluruh Italia, baik di kalangan atas maupun rakyat biasa.

Il presepe ( diorama Natal).

Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga, teman dan kerabat. Natal juga waktu yang tepat untuk berbagi dengan sesama dan tetangga. Pada mulanya bertukar hadiah Natal adalah tradisi yang dilakukan keluarga besar Sudtirolesi di wilayah Alto Adige. Dari generasi ke generasi, mereka bertukar hadiah Natal buatan tangan sendiri atau bertukar hasil karya diantara para pengrajin.

Di minggu advent mereka juga saling bertukar “Corona dell’Avvento” (mahkota advent). Ornamen Natal dari cabang-cabang cemara yang dirangkai melingkar. Kemudian mahkota itu di beri pita sutra berwarna merah dan diletakkan empat lilin di atasnya. Setiap hari Minggu sebelum 25 Desember, keluarga berkumpul di sekitar meja untuk menyalakan  lilin itu satu persatu sampai Natal tiba.

Tradisi bertukar kado yang sudah menyebar ke seluruh Italia, menjadikan “ Mercatini di Natale” (Pasar Natal) di semua kota Italia menjadi ramai. Pasar musiman yang menjual segala keperluan Natal untuk masyarakat umum. Salah satunya adalah Candelara di daerah Marche –Pesaro. Pasar natal unik yang didedikasikan untuk lilin - lilin dalam berbagai bentuk dan warna. 

Mercatino di Natale Gallarate 2018.

Saint Lucia adalah Santa Clausnya Italia, seseorang yang di belakang keledainya membawa hadiah Natal untuk anak – anak. Tradisi unik ini bermula di provinsi Veneto, tepatnya di kota Verona. Sekitar tahun 1200, di kota ini terjadi epidemi kebutaan pada anak – anak. Para ibu membawa anak-anak mereka berziarah untuk memohon perlindungan kepada Saint Lucia. Para ibu itu berjanji kepada anak - anaknya, saat mereka kembali, Saint Lucia akan membawakan mereka hadiah. Sejak saat itu, antara tanggal 12 atau 13 Desember malam, anak-anak di kota Verona selalu menunggu kedatangan Saint Lucia membawa hadiah Natal. 

Jika kita ingin merasakan bagaimana suasana Natal 2000 tahun silam, datanglah ke kota Lecce, di Italia selatan. Karena di kota ini, sebuah amfiteater Romawi kuno disulap menjadi sebuah desa Palestina kuno, lengkap dengan kehidupan sehari – hari penduduknya. Gua, rumah, pohon zaitun, hewan, kerajinan kuno, parfum, musik, benda, dan berbagai alat-alat keperluan masyarakat masa lalu. Pengunjung yang datang akan terasa berada di dalam sebuah museum, sekaligus mengenal berbagai produk khas daerah setempat. 

Panettone.

Bagi yang suka kuliner, Natal juga saatnya menikmati panettone dan pandoro. Dua jenis kue khas Natal di Italia berbahan dasar tepung terigu, mentega, telur, gula, susu yang ditaburi kismis dan buah – buah kering. Kue ini lahir dari ide anak tukang roti bernama Toni atau "pan del Toni" (terkenal menjadi “panettone”). Resepnya sangat sederhana, ide yang muncul saat keterbatasan bahan makanan di musim dingin. Resep kue ini tercatat secara resmi tahun 1549, dalam buku resep Cristoforo di Messisbugo, koki terkenal dari kota Ferrara. 

Di Calabria, Natal mempunyai keunikannya tersendiri. Selain menu makanannya, cara penataan meja dan kursi di daerah ini berbeda. Di beberapa tempat, dalam acara makan malam, dalam satu meja makan, harus 13 kursi yang disiapkan. Ini mengingatkan akan kebiasaan Yesus Kristus dengan kedua belas muridnya, 12 kursi untuk rasul dan satu kursi untuk Kristus. Namun ada beberapa kota, hanya menyiapkan 9 kursi saja, ini mengingatkan masa – masa bunda Maria mengandung. 

Bagi para pencinta musik, gli zampognari adalah alat musik tiup kuno yang populer di Italia saat Natal. Alat musik yang lahir di Italia tengah dan selatan tepatnya di Lazio (provinsi Frosinone dan Latina), Abruzzo, Molise, Campania, Puglia, Basilicata, Calabria dan Sisilia. Konon gli zampognari  sudah ada sejak zaman Romawi kuno, bahkan kaisar Nero sangat menyukai suara alat musik ini.

Gli zampognari.

Namun, tradisi Natal yang paling berkesan dan penuh makna bagi umat kristiani adalah kehadiran Paus dalam misa Natal di Roma. Perayaan yang dimulai tanggal 8 Desember, ketika Paus berjalan menuju Piazza Spagna dan meletakkan karangan bunga di depan patung Bunda Maria di gereja Trinità dei Monti. Dilanjutkan tanggal 24 Desember dengan misa tengah malam di Vatikan dan ditutup tanggal 25 Desember ketika menyampaikan pesan pastoral dari jendela St. Peter ‘s Basilica. Arrivederci…

Trailer tradisi Natal di Italia :




Sumber :
https://www.vologratis.org/natale-in-italia-tradizioni-curiosita/

Thursday, December 20, 2018

Asal- usul pohon Natal.


Memasang pohon Natal adalah salah satu tradisi Natal paling populer di dunia. Pohon yang dipajang beberapa minggu sebelum Natal, dan dirapihkan kembali setelah liburan Tahun baru selesai. Biasanya pohon yang dipakai adalah pohon cemara. Selain banyak jenisnya, pohon cemara juga yang selalu hijau disetiap musim. Pohon itu kemudian dihiasi benda-benda beraneka warna dan bentuk: lampu, berbagai hiasan, manisan buah kering dan lain - lain. Di dekat kakinya di taruh hadiah – hadiah Natal yang di buka bersama – sama saat malam Natal tiba.

Cemara adalah salah satu jenis pohon yang sangat di puja oleh bangsa – bangsa yang hidup di peradaban kuno. Mereka adalah penganut “Paganisme” atau yang menyembah kepada lebih dari satu Dewa (politeisme). Mereka percaya jika pohon cemara adalah pohon sorgawi. Sehingga dalam tradisi mereka, pohon cemara itu mereka hias dengan dengan pita, obor dan lonceng kecil. Di bawah pohon cemara, mereka juga menaruh hewan - hewan persembahan. 

Para pendeta Celtic.

Bangsa Viking di ujung utara Eropa juga percaya, jika pohon cemara memiliki kekuatan gaib, karena tidak kehilangan daunnya meskipun di musim dingin. Mereka selalu memotong pohon cemara, membawanya pulang ke rumah, kemudian dihiasi buah-buahan. Mereka percaya, kesuburan musim semi kelak akan mengembalikannya.

Para pendeta kuno (druids) dari Celtic menjadikan pohon cemara sebagai simbol umur panjang, karena pohon cemara selalu  hijau bahkan di musim dingin. Mereka menghormati pohon cemara dalam berbagai ritual mereka. Begitupun dengan orang-orang Romawi kuno yang selalu menghias rumah mereka dengan dahan-dahan pohon cemara selama bulan Januari, karena mereka juga percaya, pohon cemara adalah pohon pengharapan dan keberuntungan.

Dalam ilmu astronomi yang mereka pelajari, musim dingin mempunyai banyak arti. Dalam setahun, musim dingin memiliki titik balik matahari yang sangat pendek. Hari terpendek jatuh pada tanggal 21 Desember, karena saat itu matahari menyentuh titik terendah di cakrawala.

Peristiwa ini bagi mereka bagaikan sebuah harapan baru, pesta cahaya dan kesempatan untuk bertahan hidup. Atas dasar inilah, kemudian lahir kepercayaan – kepercayaan kuno yang menyembah dewa matahari, seperti dewa Horus di Mesir, Elettriona di Yunani, Ishtar di Iran - Kasdim, Amaterasu di Jepang dan lain - lain.

Patung dewa “Mithras”.

Dewa “Meithras” adalah dewa yang disembah masyarakat Romawi kuno. Dewa pemenang kegelapan ini bahkan sudah ada sejak abad II-I SM di daerah Mediterania timur. Mithraisme mencapai puncaknya antara abad ketiga dan keempat Masehi, ketika menyembah dewa “Meithras” sangat populer di kalangan prajurit Romawi. Ini berkaitan erat dengan pesta penyembahan pada dewa Pagan di musim dingin. Sebuah pesta yang sangat digemari di seluruh kekaisaran Romawi waktu itu. 

Ketika Kekristenan mulai menyebar di Eropa, Gereja juga harus berdamai dengan tradisi-tradisi yang sudah berakar di masyarakat. Pada tahun 274 M, Gereja akhirnya berhasil menyesuaikan pesta Pagan dengan pesta Natal, dengan mengusulkan Yesus Kristus sebagai "matahari suci yang sejati". 

Sebagai penguasa waktu itu, Kaisar Flavius Valerius Aurelius Constantinus, meresmikan tanggal 25 Desember sebagai “hari kelahiran Kristus” atau hari Natal. Kemudian mithraisme pun menghilang dalam praktik keagamaan sejak keluarnya dekrit Theodosian tahun 391 M. 

Pohon Natal di Duomo Milan.

Pohon Natal yang kita kenal sekarang, lahir di kota Tallinn, Estonia tahun 1441. Pohon cemara besar yang dipasang di depan balai kota , bersamaan dengan acara kaum muda di kota itu mencari belahan jiwa.

Sedangkan tradisi menghias pohon Natal dimulai di Jerman tahun 1611 oleh Duchess of Brieg. Menurut legenda, dia menghias istananya untuk merayakan Natal, ketika ia menyadari salah satu sudut ruangan kosong, ia memerintahkan pohon cemara dari kebun istana dipindahankan ke dalam vas dan dibawa ke ruangan itu.

Legenda lainnya menceritakan tentang seorang pria yang terpesona dengan bintang-bintang yang berkilauan melalui ranting - ranting pohon cemara di malam Natal. Kemudian dia memotong ranting - ranting itu, membawanya pulang dan menghiasnya dengan lilin merah. 

Akhir abad ke-19, atas keinginan Ratu Margherita, istri Raja Umberto I dari  kerajaan Savoia, Italia juga memiliki pohon Natal pertama. Pohon itu dipajang di Palazzo del Quirinale, tidak jauh dari tempat tinggal keluarga kerajaan.  Dari tempat ini,  tradisi menghias pohon Natal pun menyebar dengan cepat ke seluruh semenanjung.

Di Perancis, pohon Natal pertama didekorasi pada tahun 1840 oleh duchessa d’Orleans. Namun pohon cemara dikomersilkan sebagai pohon Natal dimulai pada tahun 1851 di kota New York. Akhirnya tradisi ini pun menyebar ke seluruh dunia. Arrivederci…

Trailer penyalaan lampu pohon Natal di kota Florence:



sumber:
http://www.sapere.it/.../s.../perche-si-fa-albero-di-natale.html


More articles

Holocaust Memorial Milan.

Other posts