Thursday, November 14, 2019

Kisah pedang “tertancap di batu” di Toscana Italia



Mungkin sedikit orang yang tahu, jika pedang legendaris Raja Arthur, juga ada di Italia. Pedang tertancap di batu itu, milik Galgano Guidotti, ksatria yang hidup di abad ke-12. Kisah kedua pedang itu memang jauh berbeda. Pedang Excalibur dipakai Arthur untuk menunjukkan haknya menjadi raja Inggris Raya. Sedangkan, pedang Toscana menjadi simbol pengunduran diri Galgano, dari seorang ksatria menjadi biarawan.

Galgano Guidotti lahir tahun 1148, dari pasangan bangsawan Guidotto dan Dionisia, di Chiusdino, sebuah desa kecil di dekat Siena. Dari sejak lahir, Galgano sepertinya ditakdirkan menjadi seorang ksatria dan ahli berperang. Di usia belia, ia sudah belajar menggunakan senjata. Ketika menjadi ksatria muda, karakter Galgano dikenal sombong, arogan dan otoriter.

Mungkin karena hidup di era ketidakpastian politik dan perebutan kekuasaan yang keras, membuat perilakunya seperti itu. Kadang untuk menunjukkan kekuatan keluarganya, Galgano tidak ragu melakukan tindakan tidak terpuji. Hingga di suatu waktu, beberapa peristiwa membawanya untuk berubah. Puncaknya bulan Desember tahun 1180, ketika Galgano menuju bukit Montesiepi dan menancapkan pedang ksatrianya di atas batu.

Galgano Guidotti.

Sampai sekarang, pedang itu tersimpan dengan baik di “Rotonda Montesiepi”, kapel bundar di lembah Merse, sekitar 35 km dari kota Siena. Kapel yang dibangun di tempat Galgano melakukan sumpah dan mengabdikan diri sampai akhir hayatnya, 3 Desember 1181. “Rotonda Montesiepi” diresmikan tahun 1185, bersamaan dengan hari pengangkatan Galgano menjadi Santo oleh Paus Lucius III. 

Kapel “Rotonda Montesiepi” dikenal memiliki banyak keunikan. Bentuk bulatnya mengacu pada bangunan - bangunan suci di dunia pagan dan kuil-kuil era Romawi. Sekilas seperti cangkir terbalik, melingkar tanpa titik sudut, simbol kesempurnaan dan ketidakterbatasan. Sedangkan putih dan merah, adalah warna – warna khas budaya celtic ( nenek moyang bangsa Eropa), seperti yang sering terlihat di makam – makam kuno Etruscan dan Romawi.

Tidak jauh dari altar, dimana pedang diletakkan, tampak lantainya menjorok ke dalam. Sebuah etalase transparan melindungi pedang itu dari pencuri. Pada tahun 1960 dan 1991, orang yang mengaku Raja Arthur baru, mencoba mencurinya. Akibat kejadian itu, pedang mengalami kerusakan serius. 


Altar kapel bundar.

Menurut legenda, ketika San Galgano masih hidup, seseorang pernah mencoba mengeluarkan pedang itu dari batu. Namun seekor serigala menggagalkan usahanya. Kerangka lengan kanan dan kiri pencuri itu, kini dipajang di ruang kapel. Berdasarkan analisis kimia yang dilakukan oleh Luigi Garlaschelli dan Maurizio Calì, kedua kerangka tangan itu benar -benar berasal dari abad ke-12.

Pelukis terkenal Siena, Ambrogio Lorenzetti juga turut berkontribusi untuk keindahan kapel ini. Pria kelahiran Siena, sekitar tahun 1290, memang dikenal sebagai konsepsi lukisan altar dan kisah – kisah sakral. Beberapa lukisan dindingnya terlihat di kubah kapel, salah satunya menceritakan, Galgano dikelilingi oleh orang-orang kudus dan malaikat.

Tengkorak tubuh San Galgano juga dipamerkan di kapel ini. Hanya belum ada data yang pasti, dimana tepatnya tengkorak itu ditemukan. Karena sampai saat ini, tengkoraknya belum diizinkan untuk dianalisis. Ada kemungkinan ia dimakamkan di sebelah pedang. Konon, di kapel ini juga tersembunyi cawan suci. Entah dikubur di bawah tanah atau ditanam di dalam batu. Sampai sekarang, jejak cawan itu belum ditemukan.


Kapel bundar Montesiepi.

Tidak jauh dari kapel bundar Montesiepi, berdiri sisa – sisa kemegahan “Biara Cistercian San Galgano”. Salah satu bangunan keagamaan paling penting di Siena ini, dibangun tahun 1185, atas kehendak uskup Volterra Ugo Saladin. Biara seluas 1500 m2, dengan 800 ruangan, diresmikan tahun 1288. 

Biara ini mengalami kemakmuran lebih dari se-abad. Di bawah pengawasan Imperator Henry VI, Ottone IV dan Federico II (penguasa Siena waktu itu), biara bahkan mendapat kekebalan dan hak istimewa dari kekaisaran. Kondisi yang membuat hubungan Republik Siena dan Kepausan semakin memburuk.

Biara mulai mengalami penurunan, ketika wabah penyakit melanda Eropa tahun 1347 – 1352. Wabah yang diperkirakan menewaskan hampir sepertiga populasi benua biru. Kemudian penyerbuan pasukan Florentine dan konflik - konflik politik lainnya, menyebabkan banyak biarawan pindah ke Siena. Tahun 1550, tercatat lima biarawan bertahan dan tahun 1576, hanya satu biarawan saja yang hidup di biara. 

Setelah upaya restorasi yang tidak pasti, biara mengalami kerusakan dengan cepat. Banyak perlengkapan dan perabotan biara juga dijarah. Tahun 1786, menara lonceng setinggi 36 meter, runtuh dan merobohkan sebagian besar atap biara. Tiga tahun kemudian, salah satu bangunan paling bergengsi dari arsitektur Gothic-Cistercian Italia pun hancur dan ditinggalkan. 

Biara Cistercian San Galgano.

Yang tersisa hari ini, hanyalah dinding dan lorong-lorong ruangan tanpa atap, berlantai rumput hijau dan tanah. Namun, berkat restorasi dan pemeliharaan yang terus dilakukan oleh pemerintah setempat, sisa - sisa kemegahan dan keagungan monumen abad pertengahan ini, masih bisa dinikmati banyak orang. 

Sebuah tempat, dimana pengunjung bisa merasakan harmoni langit, batu, dan bumi. Dimana rangkaian sejarah bisa terikat kuat dengan spiritualitas keagamaan. Saat musim panas tiba, biara ini akan menjadi tempat favorit para musisi dan sutradara menyelenggarakan konser. Bahkan, beberapa film klasik menggunakan biara ini sebagai latar belakang kisahnya.

Inilah Toscana, tanah kuno di Italia tengah. Tempat berbagai peristiwa sejarah terjadi, dari sejak zaman Etruria ( nenek moyang bangsa Italia), Romawi sampai Renaissance ( Italia modern). Maka tidak aneh, jika kawasan memiliki banyak tempat misteri. Kadang, peristiwa sejarah juga terjalin erat dengan legenda, salah satunya tentang pedang San Galgano.


Salah satu lorong biara.

Antara pedang Galgano dan kisah Arthurian, memang terjadi di waktu yang bersamaan. Mungkin, supaya legenda Arthurian tetap hidup, beberapa penulis sastra abad pertengahan, mencoba menghubung - hubungkan kedua kisah itu. Seperti dalam kisah “Ksatria Meja Bundar” (Knights of the Round Table), dimana Galgano sering dikaitkan dengan nama salah satu ksatria Arthurian “Galvano”. Keponakan Raja Arthur yang mendapatkan perlindungan khusus di Istana Aquitaine ( Kerajaan kecil di Perancis Selatan).

Namun, pedang bukanlah satu – satunya alasan, banyak orang mengunjungi Toscana. Kisah hidup Galgano sendiri, yang telah menginspirasi banyak orang, untuk melakukan perjalanan spiritual ke kompleks San Galgano. Seseorang yang mengajarkan kita, bagaimana mengubah pedang, dari alat perang menjadi alat perdamaian, yang mengganti baju kebanggaan, menjadi jubah kerendahan hati. Arrivederci..

Trailer Biara San Galgano Toscana Italia:

Sumber :
https://www.vanillamagazine.it/la-spada-di-san-galgano-alla-rotonda-di-montesiepi-la-excalibur-medievale-italiana/

Tuesday, September 17, 2019

Romulus dan Remus, legenda kota Roma.


Legenda adalah cerita rakyat kuno dan setiap bangsa pasti memiliki warisan itu. Budaya lisan yang menceritakan peristiwa sejarah atau asal-usul terjadinya suatu tempat. Mungkin karena belum mengenal dunia sains, orang – orang kuno sepertinya kesulitan menjelaskan fenomena alam atau fakta – fakta tertentu, yang tidak mereka pahami dengan baik. Sehingga dalam penyampaiannya, orang - orang kuno seringkali mengunakan imajinasi atau fantasi. 

Roma juga memiliki legenda itu. Cerita yang lahir ketika manusia kuno masih diatur oleh kekuatan alam, mistis dan tahayul. Legenda “Romulus & Remus” diperkirakan berkembang sekitar abad ke-12 SM (menurut sejarawan kuno tahun 1184 SM, beberapa saat setelah kehancuran Troya). Mulanya berkembang dikawasan tepi sungai Tiber, kemudian menyebar ke perbukitan Lazio dan di desa – desa kuno di sekitarnya. 

Menurut tradisi, kota metropolitan pertama itu berdiri sejak tanggal 21 April 753 SM. Roma juga tempat lahirnya bahasa latin dan salah satu peradaban kuno, yang mempengaruhi masyarakat, budaya, bahasa, sastra, seni, arsitektur, filsafat, agama, hukum dan adat istiadat di abad-abad berikutnya.


Aeneas di istana Raja Latin (Ferdinand Bol, Amsterdam, Rijksmuseum).

Sejak zaman kuno, Roma sebenarnya sudah ditempati oleh orang-orang keturunan Yunani. Mereka datang dari wilayah Arcadia, pelasgian dan Pallantio, kemudian menetap di Bukit Palatium (wilayah Lazio sekarang). Mereka berbaur dengan masyarakat asli, memperkenalkan alfabet Yunani dan mengajarkan cara hidup bermasyarakat di wilayah itu.

Data yang lebih esensial bermunculan di masa Imperator Augustus berkuasa. Pada waktu itu para sejarawan, pencinta barang antik dan penyair turut berkontribusi mengungkap asal-usul Roma. Beberapa diantaranya: Publius Vergilius Maro, Titus Livius dan Dionysios dari Halikarnassos, yang dalam karya – karyanya memberikan penjelasan terperinci tentang fondasi Roma dan alasan “Aeneas “ datang ke Italia.

Siapa itu Aeneas ? Aeneas (bahasa Yunani: Αἰνείας, Aineías, artinya "dipuji") adalah pahlawan Troya, putra pangeran Anchises dan dewi Aphrodite (Venus). Ayahnya adalah sepupu Priamos, raja Troya (keduanya adalah cucu dari Ilus, pendiri Troya). Dalam mitologi Romawi, sosok Aeneas sering digambarkan sebagai manusia yang taat kepada Dewa dan dihormati sebagai pahlawan yang ditakdirkan sebagai fondasi Roma. 


Aeneas bersama putranya Ascanius. ( Museum Ara Pacis Roma).

Kehancuran Troya membuat Aeneas dan para sahabatnya melarikan diri. Mereka berhasil mendarat di pantai Lazio dan mendirikan kota Lavinio. Aeneas kemudian beraliansi dengan Raja Latin dengan menikahi putrinya, Lavinia. Namun, pernikahan mereka membuat raja Rutuli Turnus marah. Sehingga ia bersekutu dengan raja Etruscan Mezentius, berperang melawan Latin dan Aeneas.

Bentokan ini berakhir dengan kematian Turnus. Tidak lama setelah kejadian itu, raja Latin pun meninggal. Aeneas kemudian mengambil alih komando kedua bangsa itu. Sejak itu gabungan kedua bangsa itu dikenal dengan sebutan orang - orang Latin. Ketika Aeneas meninggal, kekuasaannya jatuh ke tangan putranya Ascanius. 

Lewat Ascanius, dinasti raja-raja Alban pun lahir. Ascanius kemudian mendirikan kota Alba Longa, tempat keturunannya memerintah selama enam belas generasi. Daerah kekuasaan Alba Longa pun meluas sampai ke wilayah sekitar sungai Tiber. Keturunan Ascanius itu diantaranya : Numitore dan Amulius, putra-putra raja Proca. 

Pewaris sah raja Proca sebenarnya Numitore. Ia diusir oleh saudaranya Amulius, karena memperebutkan tahta. Namun dalam sebuah ramalan, Amulius akan digulingkan oleh keturunan Numitore. Ramalan ini membuat Amulius ketakutan, sehingga memaksa Rea Silvia, satu-satunya anak perempuan Numitore, menjadi Perawan Vestal ( dalam agama pagan tidak boleh menikah). Dengan cara ini Numitore tidak lagi memiliki penerus yang sah.

“Romulus dan Remus” ( Museum Capitolini Roma).

Tidak lama setelah kejadian itu, Rea Silvia hamil. Beberapa sumber mengatakan karena perkosaan yang dilakukan oleh salah satu pelamarnya. Sumber yang lain mengatakan, dilakukan oleh Dewa Mars. Rea Silvia pun akhirnya melahirkan si kembar, Romulus dan Remus. Segera Amulius memerintahkan pengawalnya, membawa anak kembar itu ke tepi Sungai Tiber dan meninggalkannya di sana. 

Berkat campur tangan serigala betina yang mendengarkan tangisan bayi dan menyusuinya, Romulus dan Remus pun selamat. Singkat cerita, kedua bayi kembar itu ditemukan oleh seorang gembala bernama Faustolo, bersama istrinya Acca Larentia, mereka membesarkan dua bayi itu.

Ketika dewasa, Romulus dan Remus menemukan identitas mereka sebenarnya. Kemudian membantu kakeknya Numitore, merebut kembali tahta dengan membunuh Amulius. Setelah itu, mereka meminta izin kepada kakeknya membangun kota baru. Ketika menetapkan dimana pusat kota baru itu akan dibangun, perselisihan di antara dua saudara itu pun muncul. 


Rumah kuno di zaman Romulus.

Perselisihan yang berkembang menjadi pertikaian, kemudian berubah menjadi bentrokan bersenjata. Remus akhirnya mati di tangan saudaranya dan Romulus menjadi raja. Kemudian Romulus mewujudkan kota baru itu. Mengukur perbatasan, membentengi dan mengatur masyarakatnya supaya lebih berkembang. Kota itu berubah dari waktu ke waktu, sampai menjadi kota Roma yang kita kenal sekarang.

Bagaimana dengan kota Lavinio ? sama seperti Roma, kota pantai di barat daya Roma itu masih ramai dikunjungi, terutama di saat liburan musim panas. Yang tinggal puing, hanya kota Alba Longa. Perang yang berkepanjangan antara Mezio Fufezio (raja Alba Longa) dan Tullus Ostilius (raja Roma ketiga), membuat kota ini hancur lebur dan tidak pernah dibangun lagi.

Namun bagi para arkeolog, Alba Longa tetap berharga dan istimewa. Penggalian yang dilakukan selama bertahun – tahun telah membawa hasil. Data dan bukti pendukung sastra - sastra kuno itu akhirnya ditemukan. Salah satunya, cermin bergambar seekor serigala betina, yang sedang menyusui dua anak kembar. 


Museum Aeneas di kota Lavinio.

Jika para sarjana zaman kuno Romawi menganggap, legenda mempunyai nilai sejarah yang sangat penting. Kini, dengan berbagai penemuan para arkeolog, memungkinkan kita, bisa membedakan batas-batas yang lebih presisi antara fakta dan legenda. Seperti kisah “Romulus & Remus” dalam film “The First King” (2019) yang disutradarai oleh Matteo Rovere.

Tanpa menghilangkan bukti – bukti sejarahnya, film bergender “Action & Adventure” ini menceritakan kisah tersembunyi di balik pendirian kota Roma. Mengambil latar belakang Alba Longa tahun 753 SM, tempat dimana “Romulus & Remus” berjuang meraih mimpi menjadi raja. Uniknya lagi, semua dialog dalam film ini menggunakan bahasa Proto-Italic, nenek moyang dari bahasa-bahasa Italic, terutama Latin dan turunannya. Arrivederci…

Trailer "The First King" (2019):

Sumber :
https://library.weschool.com/lezione/fondazione-di-roma-romolo-e-remo-leggenda-mito-storia-di-roma-17558.html

Wednesday, August 21, 2019

Lomba panjat pinang khas Italia.


Beberapa hari lalu, seorang teman mengirimi saya video berbagai perlombaan di perayaan HUT Republik Indonesia. Ketika melihat video lomba panjat pinang, saya pun langsung tertawa terbahak - bahak. Menonton panjat pinang, memang kegiatan yang paling saya sukai sejak kecil. Bersyukur, lomba seperti itu juga ada di Italia. Di sini dikenal dengan nama “l'albero della cuccagna”. Sama seperti di Indonesia, perlombaan ini selalu hadir di banyak festival musim semi dan panas, yang berlangsung antara bulan Juni – Agustus.

L'albero della cuccagna pertama kali diperkenalkan oleh orang – orang Jermanik yang berimigrasi ke Italia. Mula - mula berkembang di wilayah Mediterania, kemudian menyebar ke Italia tengah dan utara. Sampai sekarang, “lomba tiang berminyak”, begitu orang Italia menyebutnya, selalu menarik perhatian banyak orang. Sebuah permainan yang selama bertahun-tahun telah menjadi simbol festival populer dan festival pedesaan Italia.

Beberapa kota di Italia masih mempertahankan tradisi lama. Hadiahnya digantung di puncak tiang, biasanya berupa makanan khas daerah setempat, seperti: keju, anggur, roti, ham dan lain – lain. Cara bermainnya juga sama. Para peserta harus bekerjasama menaiki pohon yang sudah dilumuri minyak atau lemak, untuk mengambil hadiah yang digantung di puncaknya.


L'albero della cuccagna.

Panjat pinang juga populer di Spanyol, Jerman, Malta dan negara – negara Eropa lainnya. Istilah "cuccagna" sendiri berasal dari bahasa Latin ”coquina” yang artinya memasak. Dalam bahasa Prancis, dikenal dengan nama "Cocagne", Inggris "Cockaigne", Spanyol, "Cucaña" dan di Malta, "Kukkanja". Sedangkan, “cuccagna” dalam bahasa Gotik: kōka (kuche atau kuchen, dalam bahasa Jerman) artinya kue atau beberapa jenis makanan penutup yang gurih atau manis, seperti: kue kering dan gateaux (bolu panggang).

Karena sudah dipengaruhi oleh kultur negara masing – masing, panjat pinang di Eropa memiliki ciri khasnya tersendiri. Seperti “Maibaum” atau “Maypole”, pohon dalam festival Midsummer khas Eropa utara. Pohon tinggi sebagai simbol penghubung langit dan bumi. Biasanya pohon dicat warna – warni, kemudian dihiasi dengan pita dan beraneka jenis bunga. Ketika musim semi tiba, kaum muda berpakaian tradisional menari – nari dengan riang di sekeliling pohon ini. 

Menurut Antropolog James Frazer, panjat pinang di Eropa memiliki asal usul yang sama. Berakar dari tradisi celtic, nenek moyang bangsa - bangsa Eropa utara dan berkaitan dengan kultus arboreal yang tersebar di seluruh Eropa. Tradisi yang dimulai dari populasi petani kuno (orang – orang Jermanik), dimana pohon memiliki arti mitologi, religi dan simbologi yang luas dan universal. 



Maibaum atau Maypole.

Bagi orang – orang Jermanik, pohon adalah lambang kesuburan. Makanan adalah pusat kebutuhan manusia dan pohon bisa memberikannya. Ketika pohon mulai bertunas di musim semi, pertanda alam lahir kembali dan ini menjadi simbol dasar siklus kehidupan. Orang – orang Jermanik juga percaya, kekuatan gaib yang dimiliki pohon, bisa melimpahkan berkat dan kekayaan.

Oleh karena itu, di perayaan May Tree Celtic atau “Feste di Maggio” (pesta bulan Mei), para petani kuno melakukan ritual. Setelah melewati musim dingin dan memasuki pengantian musim, mereka memberikan penghormatan dan persembahan pada pohon. Memohon kembali kesuburan alam dan berharap kemurahan hati alam. Supaya pohon memberikan buah yang baik dan melimpah kepada mereka.

Seiring berjalannya waktu, semua magis dan makna sakral pada pohon mulai meredup, kemudian menghilang dalam kabut waktu. Beberapa ritual, tradisi dan kepercayaan celtic pun berubah menjadi berbagai permainan. Salah satunya l’albero della cuccagna yang berubah menjadi perlombaan kaum muda dalam menaklukan berbagai bahan makanan. Sepertinya panjat pinang yang diperkenalkan oleh Belanda di Indonesia, berasal dari tradisi ini juga.

Kirchtagsmichl.

Kini, perlombaan panjat pinang di beberapa kota Italia lebih bervariasi. Di kota Albignano d'Adda misalnya, hadiahnya berupa hewan yang digantung di ketinggian 10 meter. Di Alto Adige, ada “Kirchtagsmichl” boneka jerami seukuran manusia yang digantung di atas tiang pohon. Boneka itu mengenakan kostum tradisional khas wilayah setempat dan ditangannya memegang Kirchtagkrapfen, hidangan penutup khas Tyrolean.

Namun yang paling terkenal adalah Cuccagna del Cadenon di kota Verona, tepatnya di pelabuhan Lazise di Danau Garda. Bentuk permainannya sedikit berbeda, karena tiang yang dilumuri minyak di tempatkan di tepi danau dengan posisi horizontal. Para peserta harus mengambil bendera yang diletakkan di ujung tiang. Jika tergelincir, masih ada kesempatan bagi mereka mendapatkan hadiah yang lain, dengan berenang di air danau yang dingin.

Tantangannya lebih berat lagi, mungkin ada di kota Cesenatico. Selain kesulitan berjalan di atas lemak, para peserta juga harus bisa mengatasi 30º kemiringan tiang. Satu-satunya bantuan adalah hanya segenggam pasir, yang bisa membantu membuang lemak, sehingga peserta bisa bergerak maju.

Cuccagna del Cadenon.


Mungkin dari sisi atletiknya, banyak kaum muda Italia mulai tertarik dengan permainan ini. Mereka mulai mempelajari bagaimana caranya bertahan di tiang yang licin, melewati tantangan dan rintangan, sehingga mereka bisa sampai di puncak dalam waktu yang singkat. Tahun 1980, AIPC (Associazione Italiana Palo Della Cuccagna ) atau Asosiasi “tiang berminyak” Italia pun berdiri.

Sejak diakui oleh CONI (Comitato Olimpico Nazionale Italiano), sebagai salah satu cabang olah raga, banyak tim “L'albero della cuccagna” berbagai wilayah turut bergabung. Diantaranya: I Grassi Ostinati di Leno (Brescia), Rosengarden di Palosco (Bergamo), I Lariani (Como), Gli Strà Ferà di Parabiago (Milan) dan tim terkenal lainnya. Mereka juga selalu ambil bagian dalam kompetisi yang rutin diadakan setiap tahunnya.

Kompetisi yang diselengarakan oleh AIPC, memiliki peraturan yang harus dihormati oleh semua tim atau peserta perorangan. Hadiahnya tidak lagi berupa makanan dan minuman, tetapi piagam, piala dan sejumlah uang. Supaya tradisi kuno ini tetap ada, banyak pihak peduli dan ikut berkontribusi, baik sebagai sponsor maupun penonton. Dengan begitu, permainan yang sangat menghibur ini, tetap dikenal oleh generasi muda Italia. Arrivederci..


Trailer Cuccagna del Cadenon di kota Verona:


Sumber:
http://guide.supereva.it/antropologia/interventi/2009/01/l%E2%80%99albero-della-cuccagna

Wednesday, August 7, 2019

Augustus, imperator muda dan berpengaruh.


Segala sesuatu memiliki nama, tapi kita cenderung menggunakan nama –nama itu, seolah-olah hanya nama benda. Padahal setiap nama mempunyai arti dan kisahnya sendiri. Kadang dengan menyebut namanya saja, kisah itu langsung terlintas dalam pikiran kita. Salah satunya mungkin kisah Imperator Romawi yang sangat berpengaruh, Octavianus Augustus atau Augustus. 

Namun, Augustus sebenarnya bukan nama orang, tapi sebuah “gelar” yang diberikan kepada semua Imperator Romawi oleh Gli àuguri (para pendeta Romawi kuno yang bertanggung jawab menafsirkan kehendak Dewa). Kata Augustus sendiri berasal dari bahasa latin “augere” yang berarti “hebat” atau “terhormat”. Dan Imperator Romawi pertama yang menerima gelar itu adalah, Gaius Iulius Caesar Octavianus Augustus.

Gelar penghormatan itu diterimanya tahun 27 SM. Setelah ia menata kembali Romawi yang hancur lebur, karena perang saudara selama 20 tahun. Octavianus baru berusia 33 tahun, ketika tugas berat itu ada di hadapannya. Dengan kesabaran dan kemampuan yang dimilikinya, ia mampu merombak setiap aspek kehidupan Romawi. Merevisi jumlah senat, mereformasi konstitusi, mengatur kembali angkatan bersenjata dan yang lainnya. 


Octavianus Augustus.

Selama berkuasa ( 27 SM sampai 14 M), Octavianus dihormati sebagai "l'Imperatore della pace" (Imperator Perdamaian). Ia menjadi seorang pejabat yang berpikiran terbuka, cerdas dalam berpolitik dan membangun Romawi dengan fondasi ekonomi yang kuat. Berkat usahanya itu, Romawi masuk ke dalam periode panjang perdamaian, kemakmuran dan situasi politik yang stabil.

Latar belakang keluarga Octavianus, bisa menjadi salah satu faktor keberhasilannya. Ayahnya, seorang pengusaha dan senator Romawi, dan ibunya Atia, adalah putri Julia, saudara perempuan Julius Caesar. Octavianus lahir di Roma, 23 September 63 SM dan menjadi yatim piatu di usia empat tahun. Sejak muda, ia terbiasa tampil di depan umum, kemudian terpilih menjadi anggota pontifices ( dewan imam tertinggi di Romawi). Ketika ayah angkatnya Julius Caesar terbunuh tahun 44 SM, ia juga telah menyelesaikan studi akademis dan militernya.

Berbagai reformasi Julius Caesar yang tertunda, diselesaikan di bawah penggantinya Octavianus Augustus. Salah satunya tentang ”Kalender Julian”, yang diperkenalkan Julius Caesar tahun 46 SM. Ketika melakukan perjalanan ke Mesir, Caesar menugaskan astronom Mesir, Sosigene Aleksandria merancang kalender baru yang lebih fungsional. Kalender matahari yang perhitungannya berdasarkan siklus musim.


Kalender Romulus.

Perhitungan kalender Julian hampir sama dengan kalender Gregorian atau kalender Masehi yang kita pakai saat ini. Hanya ada sedikit perbedaan, namun semuanya sudah diperbaiki, ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian bulan Oktober 1582. Memiliki 365 hari dalam setahun dan setiap 4 tahun sekali, ada tahun kabisat.

Kalender memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia sejak zaman kuno. Karena memiliki banyak kesalahan dalam perhitungan, kalender kuno mengalami perubahan selama berabad –abad. Diperkirakan sejak tahun 753 SM, bangsa Romawi sudah memiliki kalendernya sendiri. Kalender Romulus adalah kalender pertama mereka, dibuat oleh Romulus pendiri bangsa Romawi. Kalender ini memiliki 304 hari, dibagi dalam sepuluh bulan dan dimulai dari bulan Maret.

Perubahan posisi bulan, sangat membantu orang – orang kuno mengukur waktu. Oleh karena itu, perhitungan kalender Romulus menggunakan fase bulan. Sehingga mereka tahu, kapan waktu terbaik untuk menanam dan memanen. Bulan dan bintang-bintang juga merupakan alat yang bisa membantu mereka saat bepergian, baik di darat maupun laut.

Empat bulan pertama kalender Romulus mengambil nama Dewa utama mereka. Maret dari Mars (dewa perang), April dari Aphrodite (dewi cinta), Mei atau Maia (dewi kesuburan bumi) dan Juni atau Juno (dewi perempuan dan pernikahan). Dari Juli sampai Desember, menggunakan angka peringkat dalam bahasa latin. Bulan Juli disebut Quintilis (bulan kelima), Agustus di sebut Sextilis (bulan keenam). Kemudian settimo, ottavo, nono, decimo (bulan ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuluh).

Agustus dalam kalender Romawi.

Tahun 713 SM, kalender Romulus berubah menjadi kalender Numa. Kalender yang dibuat oleh Numa Pompilio, raja kedua Kerajaan Romawi pengganti Romulus. Kalender ini hanya menambahkan bulan Januari dan Februari ke sepuluh bulan yang sudah ada atau menambahkan 51 hari ke 304 hari kalender Romulus. Kalender Romawi dirubah lagi atas perintah Gayus Julius Caesar, namun langkahnya terhenti ketika ia mati dibunuh.

Untuk menghormati Gayus Julius Caesar, senat Romawi Marco Antonio mengusulkan untuk mengubah nama bulan Quintilis (bulan kelima kalender Romawi ) menjadi Iulius, Giulio atau Juli. Dan untuk menghormati Octavianus, mereka juga mengganti nama bulan ke enam kalender Romawi dari Sextilis menjadi Augustus. Jumlah harinya juga dibuat sama seperti bulan Juli, menjadi 31 hari. Senat mengambil satu harinya dari bulan Februari.

Melalui berbagai upacara keagamaan dan memperbaiki banyak kuil, Imperator Augustus ingin menghidupkan kembali kepercayaan Italia kuno. Pada tahun 18 M, Augustus memutuskan adanya festival sebulan penuh untuk merayakan panen dan masa berakhirnya bekerja di ladang. Liburan Augustus itu dikenal dengan nama “Ferragosto” atau “Augustei” atau “Feria Augustalis. Selama perayaan, seluruh Kekaisaran Romawi ramai dengan berbagai kegiatan, salah satunya lomba pacuan kuda dan keledai yang didandani dengan bunga-bunga berwarna cerah. 


“Feria Augustalis Romawi”.


Tradisi kuno masih terus dirayakan sampai saat ini. Seperti pacuan kuda “Palio dell'Assunta” di kota Siena, yang berlangsung setiap tanggal 2 Juli dan 16 Agustus. Bentuk dan kegiatannya hampir sama dengan pacuan kuda di zaman Augustus. Nama “Palio” sendiri diambil dari "pallium", kain sutra yang diberikan sebagai hadiah bagi para pemenang lomba kuda di zaman Romawi Kuno.

Ferragosto juga salah satu liburan yang sangat ditunggu – tunggu dan tanggal 15 Agustus adalah hari libur nasional di Italia. Banyak masyarakat di sini mengambil libur panjangnya di bulan Agustus. Semuanya beristirahat dan bersantai, setelah satu tahun bekerja keras. Kurang lebih seminggu, perkantoran dan pertokoan tutup. Apalagi kegiatan belajar mengajar, mereka bahkan sudah libur sejak bulan Juli.

Banyak hal yang biasa dilakukan masyarakat Italia selama ferragosto. Ada yang tetap berlibur Italia atau di luar negeri, di laut atau di pegunungan, di kota atau di pulau. Tapi bagi kami sekeluarga, akan lebih menarik jika kembali mengunjungi Roma. Melakukan perjalanan menembus waktu dan berpetualang di kota Roma kuno. Kita bisa berdiri di depan Forum dan memandang dari dekat, orang - orang Roma kuno  sedang bekerja.

Ini sebuah proyek dari Piero Angela, berkolaborasi dengan ahli sejarah Gaetano Capasso, dalam sebuah acara “Viaggio nei Fori”. Bagi mereka yang mencintai sejarah, ini akan menjadi tontonan yang menarik, menyentuh dan kaya akan informasi. Melalui penggunaan teknologi canggih dan permainan cahaya, membuat Julius Caesar dan Octavianus Augustus seakan hidup kembali. Arrivederci…

Trailer “Viaggio nei Fori”.Roma:


Sumber : https://www.studiarapido.it/agosto-nel-calendario-romano/#.XUF95FUza00

Wednesday, July 24, 2019

Museum mumi “Catacombe dei Cappuccini” Palermo


Bagi sebagian orang, tempat ini unik dan menarik. Dimana tradisi kematian memiliki banyak arti, tidak hanya dalam arti religius tetapi juga historis dan budaya. Namun bagi mereka yang sensitif, tempat ini mungkin dihindari. Berjalan menyusuri lorong berdebu, melihat tubuh mumi tergantung dengan mulut terbuka dan rongga mata kosongnya menatap kita, sungguh pengalaman yang menakutkan. 

Tapi disitulah keunikan Catacombe dei Cappuccini (baca: Katakombe dei Kapucinni). Pemakaman yang terletak di ruangan bawah tanah Gereja Santa Maria della Pace Palermo, yang didirikan para biarawan Capuchin tahun 1534. Berawal ketika mereka memperluas pemakaman dan menemukan 45 jenazah rekan mereka yang dikubur bertahun – tahun,  tetapi masih utuh. Mereka percaya jika ini tanda Ilahi. Mereka pun membiarkan mumi – mumi itu dipajang di Catacombe. 

Akhir tahun 1700, siapapun diizinkan dimakamkan di Catacombe, asalkan membayar kontribusi untuk pembangunan gereja. Banyak warga kaya menginginkan orang yang mereka cintai dimakamkan di tempat ini. Demikian juga dengan para tokoh berpengaruh menyatakan menginginkan hal yang sama dalam surat wasiatnya. Catacombe dei Cappuccini pun mulai dipenuhi jenazah mumi dengan reputasi tertentu.

Catacombe dei Capuccini, Palermo 

Mereka mengenakan pakaian tertentu yang bisa diganti secara berkala. Para saudagar dan kaum borjuis berpakaian elegan dan para perwira mengenakan seragam militernya. Para biarawan mengenakan jubahnya dan wanita muda yang meninggal sebelum menikah, mengenakan baju pengantinnya. Supaya terlihat seperti hidup, mumi juga diizinkan menggunaan make-up dan biji mata dari kaca.

Kerabat mereka diperbolehkan mengunjunginya, melihat penampilannya dan merawat tubuhnya supaya tetap dalam kondisi layak. Posisi mereka ditata, seolah sedang berpose. Letak peti mati diatur sedemikan rupa, sehingga saat keluarga berkunjung, mereka bisa berpegangan tangan dan berdoa bersama.

Metode pemakaman Catacombe dei Cappuccini sangat dihargai, sehingga dikecualikan dari semua undang-undang sipil yang dikeluarkan Kerajaan Sisilia dalam hal pemakaman. Proses pembalsamannya juga dianggap unik. Pertama-tama semua organ dalam dikeluarkan, kemudian tubuh dicuci dengan cuka, dikeringkan di rak pipa keramik dan dibiarkan selama satu tahun. Setelah kering, tubuh mumi diisi dengan jerami dan diikat.

Sekitar 8000 jenazah dan 1252 mumi ada di pemakaman ini. Tersebar di 5 koridor dan dibagi berdasarkan gender dan kategori sosial: pria, wanita, perawan, anak-anak, keluarga, imam, biarawan dan profesional. Frater 'Silvestro da Gubbio adalah biarawan pertama yang dimakamkan di tempat ini. Meninggal tahun 1599 dan menjadi simbol dari Catacombe dei Cappuccini itu sendiri. Sedangkan biarawan terakhir adalah Frater Riccardo, yang meninggal tahun 1871.

Rosalia Lombardo, foto tahun 1995.

Untuk alasan sanitasi, tahun 1880, penguburan di gereja-gereja dan ruang bawah tanah dilarang dan Catacombe dei Cappuccini pun ditutup. Namun tahun 1920, ada dua jenazah terakhir yang diizinkan masuk: Giovanni Paterniti, wakil konsul Amerika Serikat dan si kecil Rosalia Lombardo, putri dari keluarga kaya Palermo.

Kisah Rosalia kecil ini, membuat banyak orang terenyuh. Ia meninggal karena radang paru-paru di usia 2 tahun. Ayahnya membawa tubuh gadis kecil itu ke Alfredo Salafia, pembalsem terkenal Italia. Metode Salafia benar – benar bekerja, gadis kecil itu selamat dari pembusukan, bahkan kecantikannya masih bisa dilihat sampai sekarang. Pipinya yang montok kemerahan, bulu matanya yang panjang dan pita kuning masih terikat manis di rambut pirangnya. Semuanya masih utuh, gadis kecil itu terlihat sedang tidur lelap.

Kehadirannya di Catacombe dei Cappuccini, selalu mengambil hati dan pikiran para pengunjung. The Sleeping Beauty of Palermo, begitu banyak orang menyebutnya. Untuk memperlambat proses pembusukan, mumi tercantik di dunia itu diletakkan di rumah barunya. Di sebuah peti kaca yang tertutup rapat dengan temperatur yang terjaga.

Catacombe San Callisto (Saint Callixtus), Roma.

Catacombe sebenarnya pemakaman bawah tanah yang digunakan di zaman kuno. Mungkin sejak zaman Neolitik, seperti yang digunakan oleh orang - orang Etruskan dan Nuragik di pulau Sardegna. Berasal dari nama latin "catacumba", yang artinya di bawah rongga atau gua. Umumnya, catacombe dibangun dengan cara menggali bukit kapur, sampai membentuk terowongan dengan kedalaman 7 sampai 30 meter. 

Karena hukum romawi kuno melarang menguburkan orang mati di dalam kota, catacombe Pagan dibangun jauh di luar benteng kota. Setelah dikremasi dan abunya dimasukkan ke dalam guci, para bangsawan romawi menyimpannya di makam – makam pribadi, sedangkan rakyat biasa menyimpannya di catacombe. 

Catacombe Yahudi dan Kristen banyak dibangun di abad ke-2 sampai abad ke-5 M. Karena mereka percaya ada kebangkitan setelah kematian, jenazahnya tidak dikremasi. Tapi dibungkus dengan dua lapis kain yang dibasahi ramuan tertentu, kemudian diletakkan di dalam ceruk dan ditutup dengan lempengan batu. Di waktu – waktu tertentu, catacombe juga berfungsi sebagai tempat melakukan ekaristi, dan tempat berlindung selama masa penganiayaan.

Hampir seluruh wilayah di Italia memiliki catacombe, namun yang terbanyak ada wilayah Lazio, dimana kota Roma berada. Lebih dari 60 catacombe ada di kota ini, yang tersebar di sepanjang jalan kuno: Via Appia, Via Ostiense, Via Labicana, Via Tiburtina, dan Via Nomentana. Beberapa diantaranya dibuka untuk umum, seperti: Catacombe San Callisto, San Sebastiano, Santa Domitilla, Santa Priscilla dan S. Agnese. Roma juga memiliki enam Catacombe Yahudi, namun empat telah menghilang dan dua lainnya: Vigna Randanini dan Villa Torlonia sudah ditutup. 

Catacombe San Gennaro ( Saint Januarius), Naples. 

Yang tertua adalah Catacombe Sant Sebastian, yang terletak di Via Appia Antica Roma. Yang paling terkenal dan banyak dikunjungi penziarah adalah Catacombe Sant Callixtus, terletak di antara Via Appia Antica, Via Ardeatina dan Via delle Sette Chiese Roma. Catacombe ini dikenal juga dengan nama catacombe “Para Paus”, karena banyak martir kristen dimakamkan di tempat ini, salah satunya Santa Cecilia.

Ratusan catacombe lainnya ada di kota Venice, Naples, Campania, Puglia, pulau Sardinia dan pulau Sisilia, tempat Catacombe dei Cappuccini berada. Seperti orang – orang Sisilia yang percaya “kematian adalah bagian dari kehidupan dan hubungan antara manusia hidup dan yang mati masih bisa terus berlanjut”, catacombe yang lain juga mempunyai kisah dan sejarahnya sendiri. Kisah yang lahir dari budaya dan tradisi, dimana catacombe itu berdiri. Arrivederci…

Trailer Catacombe dei Cappuccini Palermo:



Sumber: https://www.travel365.it/viaggio-nel-regno-dei-morti-catacombe-palermo.htm

Thursday, July 11, 2019

Danau Pilatus di antara sejarah dan legenda.


Meskipun sulit ditempuh, danau ini tetap menjadi tempat impian para pendaki. Salah satu danau glasial di pegunugan Apennine, yang terbentuk karena erosigletser selama Zaman Es. Berada diketinggian 1.941 m dpl, di kawasan Taman Nasional Pegunungan Sibillini, wilayah Marche. Dikenal juga dengan sebutan "il lago con gli occhiali", karena diperiode tertentu, danau ini terlihat seperti dua cermin air yang menyerupai kaca mata dengan posisi berbeda.

Danau yang selalu tertutup salju saat musim dingin dan penuh warna – warni bunga saat musim semi tiba. Namun sayang, kita hanya bisa memandangnya dari jauh. Bahkan airnya yang berkilau bagaikan kristal pun, tidak bisa kita sentuh. Jarak mendekati danau Pilatus memang di batasi, supaya species langka yang hidup di danau ini terlindungi.

Danau Pilatus juga penuh dengan misteri dan legenda. Nama yang disandangnya, mengingatkan kita pada gubernur di Palestina 2000 tahun silam. Gubernur yang sinis dan skeptis, yang rela mengorbankan hidup seseorang hanya untuk menyenangkan banyak orang. Dalam sebuah peristiwa paling penting sekaligus menyakitkan dalam sejarah manusia.

Lewat danau ini, sepertinya kisah hidup Pontius Pilatus sedikit terungkap. Latar belakangnya, posisi, tugas maupun kekuatan yang dimiliknya. Bagi sebagian orang ( seperti di gereja Etiopia dan Koptik), Pilatus adalah orang suci. Tapi bagi yang lainnya, termasuk saya, Pilatus menjadi gambaran kelemahan manusia. Seseorang yang egois dan takut menghadapi kebenaran.

Pontius Pilatus.

Selain Injil, kisah “Pontius Pilatus” ditulis juga oleh beberapa sejarawan. Dari penulis latin Pulius Cornelius Tacitus, kemudian Flavius Yosefus, penulis apologetik Yahudi abad pertama dan Filo, seorang filsuf keturunan Yahudi dari Aleksandria. Yang terbaru adalah “Ponzio Pilato, un enigma tra storia e memoria”, buku yang ditulis oleh sarjana hukum Romawi, Aldo Schiavone.

Pontius Pilatus lahir di Abruzzo, berasal dari keturunan Gens Pontia (Ponzi), bangsawan dari Campania, Italia selatan. Dia masuk dalam anggota ordo berkuda (kelompok sosial yang berada di bawah para senator) dan memiliki pengalaman dalam ketentaraan. Tahun 26 M, di usia 40 tahun, ia dikirim ke Yudea sebagai gubernur ( tepatnya prefektur) oleh Imperator Romawi Tiberius. 

Pilatus memegang jabatannya sampai tahun 37 M. Termasuk periode yang panjang untuk jabatan seorang prefek. Kekuasaannya pun meluas sampai ke Samaria dan Idumea. Dia tinggal dengan istrinya di sebuah kota pelabuhan, Kaisarea dengan rombongan kecilnya: para penulis, pelayan, pembawa berita (surat) dan lebih dari 1000 prajurit. 

Ketika bertugas, Pilatus mengenakan jubah kulit berwarna putih dan penutup dada dari logam. Dia bertanggung jawab menjaga ketertiban di provinsi dan mengelolanya secara hukum dan ekonomi. Menjadi kepala peradilan dan mengumpulkan pajak untuk memenuhi kebutuhan provinsi dan Roma. Pilatus juga terus berkomunikasi dengan Kaisar dalam hal kehormatan dan ancaman terhadap otoritas Roma.

Imperator Tiberius. 

Dalam menjalani tugas, Pilatus ternyata tidak fleksibel. Selain keras kepala, kejam dan korup, ia juga sering melakukan provokasi terbuka di Yerusalem. Memperkenalkan gambar-gambar Kaisar di Yerusalem, membangun saluran air dengan dana yang terkumpul di bait Allah dan untuk mengontrol pemberontakan, Pilatus juga memindahkan ibukota dari Kaisarea ke Yerusalem. Tindakan yang menimbulkan bentrokan dengan orang-orang Yahudi di Yerusalem.

Meskipun tidak menyetujui cara yang digunakannya, Tiberius tetap yakin Pilatus adalah sosok yang tepat memegang jabatan itu. Menjaga Yudea, yang di mata orang Romawi merupakan wilayah berbahaya. Masyarakatnya yang miskin, sombong, sulit diatur, dan percaya pada agama yang penuh dengan tahayul.

Imperator Tiberius berkuasa dari tahun 14 M sampai 37 M. Pada saat penobatannya, dia sudah menjadi pria yang matang. Pemerintahannya mendapat tanggapan positif dari masyarakat Romawi. Dia mampu mengevaluasi kompleksitas peran institusional yang dipercayakan kepadanya dan mampu mengelola keberadaan dan keberagaman kaum bangsawan dan senator.


Epigraf Pilatus di Kaisarea.

Namun yang membuat Tiberius kuatir adalah Yudea. Bersama dengan Suriah, Yudea merupakan wilayah penting untuk Kekaisaran Romawi. Kawasan yang menjadi pelindung utama kekaisaran dari serangan Parthia (salah satu kekuatan politik dan budaya Iran di Persia kuno).

Kaisarea adalah ibukota Yudea, sebuah kota yang dibangun di tepi Laut Mediterania oleh Herodes Agung. Namun, Yerusalem adalah kota utama di wilayah itu. Tempat dimana pusat agama Yahudi, kantor pengadilan dan Prefek Pilatus berada. Kota lainnya adalah Galilea, kota yang dikuasai oleh Herodes Antipas (salah satu putra Herodes Agung), juga seorang pengikut Romawi.

Sejak Romawi menguasai Yudea, keberadaannya seperti tidak diakui. Kematian Herodes Agung tahun 4 SM, menambah pemberontakan dan perpecahan di kawasan ini. Perbedaan budaya, antropologis dan peradaban sering menjadi pemicunya. Kadang ketegangan politik yang terkait dengan tuntutan agama bagaikan benang kusut yang sulit untuk diurai.

Kedatangan Romawi memang mengurangi kekuatan Sanhedrin, badan tertinggi bidang politik dan agama Yahudi. Majelis agama yang terdiri dari 71 anggota dalam arus keagamaan utama (Farisi dan Saduki). Mereka dipimpin oleh seorang imam besar yang dipilih oleh prefek Romawi. Mereka memiliki yurisdiksi atas masalah agama, namun hukuman mati atas pelanggaran ketertiban umum dan politik menjadi tanggung jawab Prefek Romawi.

“ Yesus di hadapan Pilatus “ karya Mihály Munkácsy (1881).

Pada saat itu, para imam Saduki, menganggap Yesus sebagai penghujat dan khotbahnya bisa mengancam tradisi Yahudi. Menurut hukum Yahudi, Yesus bisa dituntut hukum mati. Tetapi mereka tidak memiliki kekuatan, untuk itu mereka membutuhkan intervensi dari Prefek dan tentara Romawi.

Pilatus tidak menyangka peristiwa ini bisa menimbulkan percikan universal. Ketika terseret ke dalam pertikaian antara faksi-faksi Yahudi, sebagai otoritas Romawi, dia mencoba mencegahnya. Menyerahkan kasus itu kepada Herodes Antipas, raja wilayah Galilea namun gagal. Ingin membebaskannya, tapi tidak ingin hubungannya dengan Kayafas rusak. 

Ia mulai goyah ketika Sanhedrin mengancam akan melaporkannya pada Tiberius. Ia tidak ingin Tiberius kesal lagi. Perselisihan sebelumnya dengan orang – orang Yahudi telah menodai reputasinya. Namun jika ia menyerah pada keinginan orang Yahudi, bisa menjadi pertanda kelemahannya. Pilatus dihadapkan pada dilema.

Namun akhirnya Pilatus menyerah. Ia menempatkan kariernya di atas hati nurani dan keadilan. Mengambil air dan mencuci tangannya sebagai isyarat jika dirinya tidak bersalah. Dengan cara ini, Pilatus sudah memenuhi tugasnya menjaga ketertiban umum dan menjaga otoritas Imperator Tiberius.

Proses pengadilan yang mengubah arah sejarah manusia pun terjadi. Meskipun yakin orang itu tidak bersalah, Pilatus menyuruhnya mencambuk dan membiarkan para prajurit mengejeknya, memukulinya, meludahinya dan menyalibkannya.

Legenda Danau Pilatus.

Karir Pilatus berakhir tahun 37 M, ketika Gubernur Suriah, Lucio Vitellio memecatnya karena kekerasan yang lakukannya terhadap orang Samaria dalam pemberontakan di Gunung Garizim. Dia dipanggil Imperator, namun Tiberius sudah mati ketika Pilatus tiba di Roma. Di titik inilah, Pilatus keluar dari sejarah dan masuk dalam legenda.

Ada beberapa hipotesis tentang kematiannya, namun yang paling populer adalah legenda dari seorang penulis Perancis abad ke-15, Antoine de La Sale selama perjalanan ke Italia Tengah. Pontius Pilatus, dihukum mati oleh Imperator Vespasianus. Mayatnya dimasukan ke dalam karung dan diletakkan diatas gerobak yang ditarik kerbau. Gerobak itu dibiarkan bebas berkeliaran menuju lereng Monte Vettore di pegunungan Sibillini, akhirnya gerobak itu  terlempar ke “Lago di Pilato“.  Arrivederci….

Trailer “Lago di Pilato” Italia:

Sumber:
https://opusdei.org/it/article/32-chi-fu-ponzio-pilato/

More articles

Holocaust Memorial Milan.

Other posts